nevatera

Ikon

sekedar berterima kasih kepada dunia

Misteri Soliter:Dimana Eksistensi Kita?

Namun, aku yakin masih ada joker yang berkeliaran di dunia ini. Ia akan membuat dunia tak pernah beristirahat. Kapanpun-dan dimanapun-si tolol kurcaci itu akan berjingkrak-jingkrak dengan telinga keledainya yang panjang dan lonceng-loncengnya yang bergemerincing. Ia akan menatap sepasang matamu dalam-dalam dan bertanya padamu dalam hening di malam sunyi: Siapakah kau? Dari manakah kau berasal?

Jostein Gaarder, begitu mengakhiri novel Misteri Soliter, mendesakkan pertanyaan filosofis yang sulit di jawab, tapi menantang untuk menyelaminya. Teritori penciptaan digambarkan begitu dramatis, hening, dan ternyata misteri pencipta sangat dekat dengan yang diciptakan. Diskusi teologi-tentang penciptaan-menjadi sederhana dan mudah dikunyah. Sosok-sosok kartu remi menjadi sebuah makhluk-kurcaci- setelah keluar dari pikiran pelaut kesepian-pemain soliter-menjadi semacam penanda proses penciptaan oleh Tuhan. Proses penciptaan Adam melewati fase kehendak oleh Tuhan. Tapi, apakah kurcaci tercipta melewati kehendak Frode?

Bagian penciptaan kurcaci absurd diceritakan dalam novel ini. Kurcaci-kurcaci berlompatan keluar dari pikiran Frode-yang dipenuhi gambar-gambar kartu remi-dan menjadi individu yang bereksistensi. Kurcaci ditandai olehnya. Kurcaci dikendalikan. Absurditas penciptaan tampak pada eksistensi joker. Joker tiba-tiba muncul. Joker tidak bisa dikendalikan. Kurcaci ciptaan Frode tidak bisa dikendalikan, termasuk oleh Frode-sang pencipta. Dimana eksistensi sang pencipta? Atau mungkin segaris dengan pernyataan ayah Hans Thomas.

“Mungkin Ia takut saat melihat apa yang telah diciptakan-Nya. Jadi Ia lari dari segalanya. Tidak mudah mengatakan siapakah yang rasa takutnya paling besar; makhluk yang diciptakan atau sang pencipta. Kupikir proses penciptaan menakutkan keduanya. Tapi, setidaknya Dia menandai adikarya-Nya itu sebelum pergi meninggalkannya.”

Eksistensi orang lain merupakan ancaman bagi eksistensi kita.

Misteri Soliter menjadi jembatan menuju berbagai macam pertanyaan eksistensial, pertanyaan yang sering diajukan Sartre, Kierkegard, Nietzche, dll. Novel ini menjanjikan bagi pencinta sastra filosofis untuk menyelam dipalung penciptaan dan eksistensi manusia. Sebab jangan-jangan kehidupan kita sebenarnya selalu diikuti oleh joker.

Joker membuat eksistensi kita-sebagai manusia-terancam. Joker selalu bisa masuk pada wilayah dimanapun dan waktu kapanpun.

Filed under: Resensi

Pendidikan Tinggi dan Globalisasi

Globalisasi telah mendorong terjadinya kompetisi bagi lembaga pendidikan yang tidak bersifat lokal atau regional saja, melainkan internasional. Kompetisi global tersebut membawa dampak di sektor pendidikan, salah satunya internasionalisasi pendidikan tinggi. Internasionalisasi pendidikan tinggi oleh Supriadi (2000:11) terwujud melalui empat bentuk. Pertama, dibukanya cabang-cabang perguruan tinggi di negara lain (semacam kelas ekstension), misalnya perguruan tinggi Amerika membuka cabang di Asia. Kedua, kerjasama antara perguruan tinggi dari suatu negara dengan perguruan tinggi di negara lainnya yang menawarkan program gelar. Ketiga, kuliah jarak jauh baik melalui media cetak maupun secara virtual melalui internet. Sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Amerika, Eropa, dan Australia menawarkan program gelar melalui model ini. Keempat, studi perbandingan mutu pendidikan tinggi yang menghasilkan peringkat perguruan tinggi dibandingkan dengan sejumlah perguruan tinggi lainnya. Kompetisi global tersebut mau tidak mau harus dihadapi oleh PT di Indonesia, baik negeri maupun swasta.

Hilangnya batas-batas negara (internasionalization) pendidikan ditakutkan akan memangkas akses pendidikan masyarakat kelas menengah ke bawah. Kondisi tersebut akan mendorong terjadinya kesenjangan sosial karena pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak terjadi, walaupun sejak awal pemerintah berargumentasi bahwa akan ada pemberlakuan berbeda antara strata ekonomi. Ketakutan masyarakat tidak mendapatkan mutu pendidikan yang memadai juga beralasan, sebab mutu perguruan tinggi asing dianggap lebih baik. Alasan-alasan itu menjadikan stigma bahwa pendidikan bermutu hanya untuk kalangan dengan strata ekonomi atas dan sebaliknya bagi masyarakat dengan strata ekonomi menengah ke bawah, biarpun begitu pendidikan tetap menjadi magnet bagi masyarakat. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang selama ini dikenal sebagai pendidikan yang bisa dijangkau dan mutunya relatif baik, juga mulai menaikkan biaya pendidikan bagi mahasiswa sebagai konsekuensi pengurangan subsidi dari pemerintah. Padahal tanggung jawab negara untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia merupakan amanah konstitusi.

Todaro menyatakan, bahwa sumber daya manusia dari suatu bangsa – bukan modal fisik atau sumber daya material – merupakan faktor paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa bersangkutan. Wajah pembangunan pendidikan Indonesia dapat dibentangkan dengan melihat tujuan pendidikan nasional. Secara umum tujuan pendidikan nasional mencakup (1) mencerdaskan kehidupan bangsa, (2) mengembangkan konsep manusia seutuhnya, (3) konsep manusia yang bermoral religius, berbudi pekerti luhur, berpengetahuan, cakap, sehat dan sadar sebagai warga bangsa.

Pendidikan oleh Wahono (2000:2) secara lugas dikatakan, bahwa sebenarnya adalah wahana atau alat saja. Sebagai alat, pendidikan diabdikan kepada sebuah atau beberapa tujuan. Dalam tujuan terkandung visi dan misi. Di sinilah terjadi medan perebutan pengaruh dari berbagai kekuatan lengkap dengan ideologinya (O’neil, 4: 2002). Kekuatan dan ideologi ini terjelma dalam sistem ekonomi pendidikan. Sistem ekonomi pendidikan ini berkaitan dengan sistem pembiayaan pendidikan. Sistem pembiayaan pendidikan yang terwujud dalam alokasi komponen pembiayaan pendidikan idealnya mencerminkan visi dan misi lembaga pendidikan.

Perebutan kekuatan dan ideologi yang menjelma dalam sistem ekonomi pendidikan ini yang sebenarnya menggelisahkan beberapa kalangan. Liberalisasi perdagangan global sebagai ibu kandung sistem ekonomi kapitalistik telah membawa dampak tidak sedikit bagi pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Faqih (Wahono, 2002:ii) menjelaskan dengan baik, bahwa liberalisasi perdagangan global membawa dampak terjadinya komodifikasi (comodification) pendidikan. Komodifikasi merupakan proses transformasi yang menjadikan sesuatu menjadi komoditi atau barang untuk diperdagangkan demi mendapatkan keuntungan. Jika tidak hati-hati sistem ekonomi pendidikan akan terjebak dalam komodifikasi tersebut. Padahal seperti diungkapkan di awal, pendidikan hanya sebagai sebuah alat untuk tujuan di luar pendidikan itu sendiri. Kasus-kasus jual beli ijazah, jual beli gelar, atau lembaga-lembaga pendidikan yang ternyata fiktif memberikan gambaran yang jelas, bagaimana komodifikasi tersebut sebenarnya ada. PT di Indonesia menghadapi masa-masa sulit dengan kondisi tersebut, sementara kondisi pembiayaan pendidikan sendiri mengalami tantangan dengan ekonomi nasional yang belum baik.

Pembiayaan pendidikan di PT merupakan salah satu variabel yang menyumbang tercapainya tujuan pendidikan. Salah satu tujuan pendidikan dalam mengelola variabel biaya pendidikan yaitu pengelolaan variabel tersebut secara efektif dan efisien untuk menghasilkan output sesuai dengan cita-cita konstitusi.

Penelitian mengenai variabel biaya pendidikan dengan komponen tujuan pendidikan telah dilakukan oleh beberapa ahli, salah satu penelitian itu berusaha mengkaitkan beberapa variabel biaya pendidikan dengan mutu pendidikan (Fattah,45:2002). Hasil penelitian lain menyatakan, bahwa upaya meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan di daerah pedesaan menunjukkan upaya pemborosan yang tinggi sehingga menurunkan tingkat efisiensi pendidikan di tingkat sekolah dasar (Behrmean dan Birdsall:1983). Sebaliknya hasil penelitian lain menyimpulkan, bahwa upaya meningkatkan pemerataan kesempatan akan pendidikan di Sekolah Dasar di negara-negara yang sedang berkembang, ternyata telah meningkatkan efisiensi sistem pendidikan secara keseluruhan karena pendidikan di tingkat Sekolah Dasar telah memberikan “rate of return” yang cukup tinggi (Foster,1980; Carnoy et al, 1982). Studi yang dilakukan Budiono dan Mc Mahon (1982) membuktikan bahwa upaya meningkatkan pemerataan kesempatan akan pendidikan di tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Tingkat Atas di Indonesia telah juga berhasil meningkatkan tingkat efisiensi sistem pendidikan di sekolah. Perbedaan hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan betapa komponen biaya pendidikan memiliki elastisitas pengelolaan yang berdampak pada tercapainya tujuan pendidikan.

Studi Psacharopoulus (Teguh, 2004:5) mengenai pembiayaan pendidikan memaparkan hal yang amat mengagetkan, di mana di NSB (Negara Sedang Berkembang) rata-rata biaya seorang mahasiswa setara dengan 88 kali biaya seorang siswa SD. Kenyataan ini berbeda dengan di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Selandia Baru yang perbandingannya mencapai 17,6. Sayang, tingginya biaya pendidikan tinggi di NSB tidak diikuti secara proporsional pendapatan yang diperoleh dari seseorang lulusan perguruan tinggi. Kondisi tersebut menjadikan cermin bagi PT di Indonesia untuk terus meningkatkan efisiensi pendidikannya.

Penelitian-penelitian mengenai variabel biaya pendidikan tidak sekedar mencakup hal-hal di atas, melainkan penelitian terhadap dampak sosial-ekonomi pendidikan. Salah satu penelitian yang menggunakan analisis organisasi dilakukan oleh Ruwiyanto (56:1994), yaitu pengaruh faktor-faktor dinamika organisasi lembaga pendidikan karya terhadap manfaat sosial-ekonomi warga belajar. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dinamika organisasi pendidikan akan membawa pengaruh terhadap manfaat warga belajar. Selain itu penelitian ini juga menyimpulkan bahwa upaya memperbaiki manajemen untuk efisiensi biaya pendidikan akan membawa dampak pengentasan masyarakat miskin, sekaligus usaha ini akan membawa pada usaha ke arah pemerataan pedidikan.

Percepatan dan pemerataan penyediaan pendidikan formal secara kuantitatif kerap diartikan sebagai kunci kesuksesan pembangunan ekonomi, mitos seperti inilah yang berkembang selama ini. Kecenderungan lain yang muncul di NSB, termasuk di Indonesia, antara lain pendidikan lebih dinilai sebagai status sosial ketimbang produktivitas.

Todaro (Teguh, 2004:5) menyatakan masyarakat, termasuk pasar tenaga kerja, cenderung mengharapkan ijazah pendidikan lebih tinggi. Kecenderungan ini yang mendorong meningkatnya permintaan akan jenjang pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan, termasuk PT, karena kondisi tersebut dapat mengoptimalkan kualitas outputnya dengan meningkatkan efisiensi pendidikan.

Keterkaitan pendidikan faktor-faktor lain diluar pendidikan juga menjadi kajian beberapa ahli. Combs dan Ahmed (5:1980) menjadikan pendidikan nonformal sebagai unit analisisnya terhadap pemerataan pendidikan. Perhitungan politik ekonomi di perguruan tinggi dilakukan oleh Wahono (1:2001). Wahono memperlihatkan analisis cermat mengenai pendidikan dari sudut ekonomi politik. Sementara itu, kajian efisiensi ekonomi pendidikan yang dilakukan untuk mengukur tinggi rendahnya tingkat efisiensi menjadi kajian yang juga memperkaya bidang kajian ini (Nurhadi, 1988). Penelitian dengan fokus hubungan variabel dengan mutu proses pembelajaran dan prestasi belajar dilakukan Fattah (2002), fokus penelitiannya pada level pendidikan SD. Hasil penelitiannya menunjukan pola hubungan yang signifikan di antara variabel-variabel yang diukur.

Psacharopoulos dan Patrinos (Teguh, 2004:5) menemukan, investasi pendidikan tinggi di Indonesia tahun 1986 memiliki nilai manfaat sosial sebesar 5 persen. Nilai ini lebih rendah ketimbang manfaat sosial dari pendidikan menengah yang mencapai 11 persen. Sayang studi ini tidak mengungkapkan manfaat individu yang diperoleh. Manfaat sosial ini tentunya berbeda-beda tiap PT, dengan mengetahui hal tersebut dapat dilakukan strategi lebih terencana untuk mengoptimalkan output yang dihasilkan.

Filed under: Perubahan

Energi Cinta

Ternyata bertemu dengan banyak orang membuat lelah. Kenapa lelah? Bertemu banyak orang membuat energi kita terserap. Alih-alih menyerap, malah terkuras habis. Ada tidak ya trik mengelola energi, biar bisa banyak bertemu dengan banyak orang dengan banyak situasi. Kalau situasi yang ditemui pas enak, energi mungkin sedikit menguap dari tubuh. Tapi begitu bertemu dengan hari yang sarat dengan emosi, rasanya energi tercukur habis.

Energi yang ada dalam tubuh kita jumlahnya terbatas, sementara aktivitas kadang tidak mengenal batas. Apa lagi kalau mengikuti mitologi Tiongkok, ying-yang, energi yang kita miliki belum tentu positif. Padahal orang lain, seperti juga kita, selalu mengharapkan sikap positif dari orang lain. Tak pelak ketika cadangan energi kita menipis, titik emosi mudah sekali tersulut.

Saya sempat memperhatikan bayi, sepertinya energinya tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan. Energi bayi relatif bertahan lama. Coba bayangkan, pengasuh bayi akan lebih mudah kelelahan dari pada bayi yang diasuhnya. Bayi terus bergerak, menangis, berceloteh, dan beeksplorasi. Bayi tumbuh berkembang dengan energi yang tumbuh berkembang juga. Atau apa memang karena bayi belum banyak mengenal jenis dan mengekspresikan emosi, seperti manusia dewasa?

Manusia dewasa banyak mengenal jenis dan mampu memanipulasi emosi. Energi sangat berkaitan dengan dengan hal tersebut. Bukan tumbuh energi pada manusia dewasa, melainkan mati. Semakin bertambah energi semakin surut.

Saya melihat energi yang tidak mudah mudah mati, paling pasang surut, adalah cinta.

Coba kalau semua lapisan pekerjaan, pendidikan, pengguna jalan, dan lainnya menggunakan energi cinta, maka akan lebih baiklah dunia

Saya ingin bekerja dengan cinta!

Filed under: Perubahan

Sekali Lagi Poligami!

Kalau sebelum pernikahan (laki-laki dan perempuan) sepakat kelak setelah jadi suami atau istri salah satunya boleh melakukan poligami, perdebatan poligami akan berubah petanya. Peta perdebatan dipantik karena perlakuan salah satu pasangan (suami/istri) yang menyakiti pasangannya. Agama (Islam, Kristen, Hindu, dan Budha) memang sering dijadikan sandaran pembenaran, perdebatan disekitar ini sudah cukup menyeruak. Dan kalau memang benar semua agama membenarkan poligami, maka perdebatan ini akan tumpul. Terutama poligini (seorang pria memiliki beberapa istri sekaligus), dan bukan poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus) sering menjadikan anggapan beberapa pihak: pasti ada ketidakadilan, pasti ada yang disakiti, dan pasti ada penindasan.

Sekali lagi, kalau memang pasangan yang mau melakukan poligami, kalau menurut saya tidak masalah, itu merupakan komitmen mereka sebelum pernikahan. Tapi kalau sudah sampai pada jenjang pernikahan, maka akan ada satu pihak yang tersakiti. Sebab pilihan melakukan poligami tidak tunggal, tapi memerlukan diskusi dengan pasangan.Kalau argumen yang digunakan penganut poligami; daripada melakukan perzinahan, maka poligami lebih baik, merupakan argumen yang jongkok. Sebab akar perzinahan dengan poligami berbeda. Kalau para pelaku poligami mau disejajarkan dengan pelaku zina, saya kira juga bukan pada tempatnya. Saya ingin melihat persoalan poligami ini lebih sosiologis, dari pada teologis. Paling-paling menyerempet psikologis.

Poligami bagi saya merupakan pilihan. Pilihan ini sangat dipengaruhi oleh bangunan struktur sosial dan budaya. Strukltur sosial-budaya yang permissif akan banyak memberi peluang untuk terjadinya poligami. Konstruksi patriakhi juga memberikan jejaring yang kokoh dalam terciptanya pola pikir yang mendorong maju terjadinya poligami. Pilihan bagi seorang melakukan poligami kadang tidak berkaitan dengan persoalan strukltur sosial-budaya yang permissif tadi, sebab tidak ada sangsi yang jelas. Persoalan lebih pada relasi antara pasangan.

Ranah domestik sering menjadikan perempuan tidak berdaya ketika diajukan pilihan oleh pasangannya yang akan berpoligami. Keterbatasan ini saja merupakan bentuk ketidakadilan awal, belum samapi pada jenjang berikutnya. Laki-laki (dalam kasus poligini) cenderung menjadi pihak pertama yang mengajukan untuk menikah lagi. Agak sulit memikirkan pihak perempuan dulu yang mendorong pihak suaminya untuk menikah lagi, walaupun mungkin itu ada. Teh Ninih saja sampai klenger begitu suaminya mau nikah lagi. Jangan ditanya sikap suaminya. Dia akan tenang saja, masyarakat permissif dan agama tidak mempersoalkannya.

Sekali lagi, laki-laki sering menjadikan kekuatan ranah publiknya untuk menjinakkan perempuan. Tak pelak alasan melakukan poligami sebenarnya karena ketidakberdayaan pemegang peranan domestik melawan wilayah publik yang dimiliki laki-laki. Saya kira tulisan ini akan menemukan pembenaran, jika contoh-contoh kasus penolakan poligami, yang kebanyakan dari mereka tidak dikangkangi hegemoni publik laki-laki.

Filed under: Perubahan

Flickr Photos

MY FIRST ASAKUSA

Pencil Vs Camera - 66

More Photos

Donkey Kong Games

Get the Donkey Kong widget and many other great free widgets at Widgetbox!

Blog Stats

  • 8,677 hits

technorati.com

Add to Technorati Favorites
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.