Oleh: teguh triwiyanto | Januari 24, 2008

Menimbang Sikap Mental Kita

Ini adalah masalah meyedihkan yang terjadi di depan mata kita. Lihat bagaimana sampah berserakan di mana-mana, dari jalan raya, tempat umum, sampai halaman Istana Negara. Tidak percaya? Lihat saja sehabis upacara kenegaraan di Istana Negara, halamannya selalu menjadi tempat sampah raksasa karena para tamu yang terhormat membuang sampah seenaknya.

Buku Mencegah dan Mengatasi Krisis Anak Melalui Pengembangan Sikap Mental Orang Tua karya T.A. Tatag Utomo secara reflektif merongrong sikap kita, orang tua, yang selama ini diyakini – dalam melihat carut-marut kehidupan baik sebagai individu maupun sosial. Sikap reflektif ini ditunjukkan dengan tidak menyalahkan pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas menurunnya mental dan gagalnya pembangunan karakter generasi penerus. Kegagalan tersebut oleh Tatag Utomo diperlihatkan antara lain: tata krama yang mulai mengendur, disiplin yang jeblok, rasa memiliki aset publik yang lemah, tawuran, kerusuhan, kebebasan yang kebablasan, kebiadaban, korupsi, keterampilan berbahasa yang rendah, rendahnya minat baca, dan rendahnya kepedulian lingkungan hidup. Paragraf pertama memperlihatkan contoh disiplin yang jeblok.

Alternatif reflektif yang ditawarkan dalam buku ini bernas dan denting tiap kalimatnya mengaduk-mengaduk rasa kemanusiaan kita. Sudut pandang yang ditawarkan berbeda dari sebelumnya, walaupun tidak benar-benar baru tentunya. Selama ini yang sering dijadikan kambing hitam kebobrokan mental bangsa yaitu dunia pendidikan, sekolah dalam arti sempit. Maka, perdebatan sering berpusat bagaimana memasukkan pesan-pesan moral dalam kurikulum, misalnya mendesakkan mata pelajaran budi pekerti. Sering juga agama jadi tertuduh, nilai-nilai religi hanya menyentuh bibir, tidak menyentuh pengalaman dan pengamalan hidup sehari-hari. Belum puas dengan kambing-kambing hitam itu, dibuatlah kambing hitam baru; modernisasi, westernisasi, teknologi informasi, dan lain-lain.

Sekali lagi buku ini memberikan tekanan; bukan siapa-siapa yang salah, yang pasti PARA ORANG TUA KITA, ATAU KITA SEBAGAI ORANG TUA GAGAL MENANAMKAN DAN MENDIDIK ANAK-ANAKNYA.

Contoh-contoh sikap-sikap mental bertebaran dalam buku ini, maka selain reflektif buku ini juga menyentuh praksis. Pembentukan sikap mental kaya dibicarakan dengan contoh yang relevan. Memang buku ini langsung tembak pada sasaran, selain parodi dan satire kehidupan.

Tesis buku ini jelas; budaya bangsa kita yang bebal ini dipicu oleh sikap mental individu masyarakat yang bebal pula. Sikap mental individu melahirkan tindakan, tindakan yang berulang melahirkan kebiasaan, kebiasaan yang mendarah daging melahirkan tabiat, tabiat yang dimiliki sebagian besar anggota keluarga melahirkan budaya keluarga, dan tabiat tersebut menjalar ke masyarakat sampai akhirnya menjadi budaya bangsa.

Orang tua memiliki tugas membahagikan anak dan memberikan perhatian pada anak. Kedua hal sederhana tersebut sangat berkaitan dengan sikap mental orang tua. Sikap mental ini yang dijadikan landasan untuk meningkatkan kualitas anak. Kualitas anak yang ditingkatkan meliputi kualitas pengetahuan/keterampilan, kualitas pekerjaan, kualitas kejiwaan, kualitas fisik, dan kualitas sikap mental.

Seperti ditekankan dalam buku ini; bukan hanya “kepintaran” anak yang ditekankan atau dikembangkan. Masih ada empat kualitas seperti yang disebutkan di atas. Kalau yang ditekankan hanya kualitas kepintaran (IQ) anak, maka seorang anak memang menjadi anak”teckno” dengan segala ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi mungkin saja tidak sehat, tidak matang emosinya, tidak mampu bekerja dengan total dan tuntas, atau tidak mempunyai pekerti yang baik.

Mungkin teori-teori perkembangan psikologi anak bertebaran di mana-mana, dibanyak buku dan literatur. Tetapi buku ini, bagi saya ini yang utama, menggugah dan menghentak-hentak untuk melakukan perubahan. Perubahan yang mungkin hanya kecil, diri sendiri. Seperti maksud buku ini, kalau ada individu yang tergugah, maka tercapai tujuan buku ini. Bukankah perubahan, seperti di tulis dalam buku ini, di mulai dari individu, orang tua, yang terus bergelembung dan menggurita di masyarakat dan bangsa.

Maka sesuai saran penulis; para orang tua yang lahir pada tahun 1920 ke atas, rasanya terlalu sulit membaca buku ini (sudah terlalu tua). Orang tua yang merasa tidak ada masalah dengan pendidikan anaknya, atau orang tua yang malah senang melihat anaknya sukses karena korupsi, tidak akan merasa perlu membaca buku ini.

Nah, mari menimbang dan berada di mana sikap mental kita?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori