Tulisan ini untuk micro teacing di UM Malang. Mudah-mudahan bermanfaat.
Pendahuluan
Manajemen sumber daya manusia dalam organisasi kerja menghadapi tantangan organisasi yang dilayaninya. Berbagai tantangan internal timbul karena lembaga mengejar sararan-sasaran ganda. Handoko (2001:22) menyebutkan bahwa sasaran-sasaran tersebut memerlukan ”trade off” antara tujuan-tujuan finansial, pemasaran, produksi, personalia, dan lain-lain. Karena tujuan-tujuan manajemen sumber daya manusia hanya merupakan salah satu yang ditetapkan diantara banyak tujuan dalam pandangan manajemen, para pengelola manajemen sumber daya manusia harus menghadapi tantangan-tantangan internal dengan perhatian seimbang untuk berbagai kebutuhan lain.
Tantangan-tantangan manajemen sumber daya manusia dalam organisasi kerja sering dijadikan masalah dan menggerogoti sinergitas organisasi. Masalah-masalah yang sering muncul antara lain: karakter organisasi, serikat pegawai, sistem informasi, perbedaan-perbedaaan individual pegawai, dan sistem nilai manajer dan karyawan (Handoko, 2001:23) Pemecahan secara strategis terhadap persoalan-persoalan tersebut memerlukan kajian mendalam terhadap kepemimpinan, iklim organisasi, tuntutan-tuntutan individu, dan tuntutan-tuntutan organisasi (Burhanuddin, 1994:279)
Kemampuan merancang dan menganalisis kebutuhan pribadi dalam organisasi dan tuntutan organisasi sangat diperlukan. Rancangan dan analisis tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan bahan perencanaan organisasi.
Tantangan-tantangan Eksternal Organisasional dalam
Manajemen Sumber Daya Manusia
Tantangan-tantangan organisasi dapat dibedakan menjadi dua, eksternal dan internal (Handoko,2001:15) Tantangan eksternal terdiri dari variabel-variabel yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan (uncontrollable), yang berasal dari lingkungan, antara lain: teknologi, ekonomi, politik/pemerintah, demografis, geografis, sosial budaya, pasar tenaga kerja, dan kegaiatan para pesaing.. Keputusan-keputusan manajemen sumber daya manusia yang menyangkut keputusan-keputusan penarikan, seleksi, latihan, penempatan, tansfer, promosi, penilaian prestasi kerja, disiplin, kompensasi dan sebagainya, harus diambil dengan memperhatikan lingkungan tersebut dan, sebaliknya, organisasi hanya mempunyai sedikit pengaruh. Ini memberikan kepada fungsi manajemen sumber daya manusia dua pilihan: memonitor perubahan variabel-variabel lingkungan dan bereaksi terhadapnya; atau mengantisipasi perubahan-perubahan apa yang akan terjadi dan merencanakan berbagai tanggapannya.
Pendidikan pada derajat tertentu tidak berbeda, tertutama bagaimana mengelola sumber daya manusia, dengan lembaga atau perusahaan dalam menghadapi tantangan-tantangan. Masalah pokok pendidikan atau perusahaan sangat erat berkaitan dengan produk sebagai sebuah konsep umum. Masalah-masalah tersebut meliputi: (a) komoditas apa yang harus dihasilkan dan berapa banyak, kapan harus diproduksi, apakah sekarang atau sekian tahun yang akan datang?; (b) bagaimana komoditas itu harus diproduksi? Dengan perkataan lain, siapa yang melakukan produksi, dengan cara bagaimana?; dan (c) untuk siapa komoditas itu dihasilkan? Siapa yang akan memanfaatkannya dan bagaimana mendistribusikan?
Tjokrowinoto (1996:3) menyatakan bahwa sistem pendidikan (sisi eksternal) memiliki hubungan dengan masyarakat dan lazimnya dalam analisis terhadap pendidikan tersebut harus melibatkan tiga komponen: (a) lembaga pendidikan itu mengubah kualitas pribadi; (b) pribadi yang telah berubah kualitasnya itu meninggalkan lembaga pendidikan, kemudian memasuki lembaga sosial-ekonomi; dan (c) lembaga sosial-ekonomi berkembang karena memiliki kualitas yang baru.
Tantangan-tantangan Internal Organisasional dalam
Manajemen Sumber Daya Manusia
Tantangan-tantangan manajemen sumber daya manusia dalam organisasi kerja sering dijadikan masalah dan menggerogoti sinergitas organisasi. Masalah-masalah internal yang sering muncul antara lain: karakter organisasi, serikat pegawai, sistem informasi, perbedaan-perbedaaan individual pegawai, dan sistem nilai manajer dan karyawan (Handoko, 2001:23) Pemecahan secara strategis terhadap persoalan-persoalan tersebut memerlukan kajian mendalam terhadap kepemimpinan, iklim organisasi, tuntutan-tuntutan individu, dan tuntutan-tuntutan organisasi (Burhanuddin, 1994:279).
Secara teknis internal sistem pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut:Bahwa hasil pendidikan dapat diukur dengan output pendidikannya. Pengukuran atau indikator output yang dipergunakan akan menjadi kunci dalam menghitung tingkat efisiensi dan efektifitas sumber daya manusia dari suatu program pendidikan.
Sebagai ilustrasi bagaimana tantangan-tantangan internal organisasional dalam manajemen sumber daya manusia, berikut contoh dalam lembaga pendidikan (PT). Manajemen sumber daya manusia di PT, ini merupakan tantangan internal, dapat dihitung dengan cara mengukur ketersediaan dosen, tinggi rendahnya pendidikan dosen, dan ketersediaan fasilitas perpustakaan fakultas. Ketersediaan dosen dapat diukur dengan melihat rasio dosen dengan mahasiswa, semakin kecil rasionya semakin efektif dalam menunjang proses pembelajaran. Tinggi rendahnya pendidikan dosen diukur dari persentase pendidikan dosen yang berwenang mengajar. Ketersediaan fasilitas perpustakaan dapat diukur dengan rasio jumlah eksemplar buku dan judul dengan jumlah mahasiswa, semakin tinggi semakin baik menunjang proses pembelajaran.
Selain sisi teknis internal di atas, tantangan internal organisasional pada manajemen pendidikan terletak pada kepemimpinan dan iklim organisasi. Burhanuddin (1994:276) memperlihatkan efektifitas tiap-tiap tipe kepemimpinan dan iklim organisasi.
Iklim Organisasi. Iklim organisasi merupakan hal penting organisasi kerja dalam manajemen sumber daya manusia. Ada dua hal yang penting dalam pengertian iklim organisasi: (1) iklim organisasi berkenaan dengan persepsi-sifat atau karakteristik organisasi yang mencerminkan nilai-nilai, norma-norma, dan keyakinan-keyakinan (belief) yang ada dalam organisasi. (2) iklim organisasi merupakan hasil interaksi seluruh komponen dalam organisasi, oleh karena itu, iklim organnisasi mempengaruhi perilaku individu-indvidu dalam organisasi dan membentuk perilaku-perilaku itu menjadi karakteristik organisasi.
Faktor-faktor pembentuk iklim organisasi (Halpin dan Croft dalam Burhanudin:93) yaitu: keterpisahan, rintangan, semangat, keakraban (komponen persepsi guru tentang interaksinya dengan sesama guru), kejauhan, tekanan pada hasil, dorongan, dan pertimbangan (komponen persepsi guru tentang interaksinya dengan kepala sekolah).
Kesehatan iklim organisasi dapat dilihat (Carver dan Sergiovani dalam Burhanudin:98) dari dimensi: berpusat pada tujuan, kelayakan komunikasi, pemerataan kekuasaan secara optimal, pemanfaatn sumber daya, kekompakan, otonomi, adapatasi, semangat kerja, pembaruan, kelayakan pemecahan masalah.
Model faktor penentu, hasil individu yang berhubungan dengan keektifan organisasi (dikutip dari Steers dalam Burhanudin: 104)
Organisasi pendidikan perlu juga memperhatikan dan memenuhi tuntutan individu anggota organisasi, disamping tetap memperhatikan tuntutan organisasi. Berikut contoh bentuk-bentuk kebutuhan pribadi dan tuntutan organisasi guru (Burhanudidin, 1994:279) Tuntutan-tuntutan individu (dimensi ideografis) antara lain; mendapatkan gaji yang layak, mendapatkan penghargaan, memperoleh kenaikan pangkat, dihargai oleh pimpinan sekolah, diterima oleh kelompok, mencapai prestasi yang tinggi, dan lain-lain. Tuntutan-tuntan organisasi (dimensi nomotetis) antara lain: tujuan organisasi sekolah, tugas dan jabatan, disiplin kerja, loyalitas terhadap pimpinan, norma-norma kelompok, tata kerja ’organizational”, dan lain-lain.
Kesimpulan
Manajemen sumber daya manusia dalam organisasi kerja menghadapi tantangan organisasi yang dilayaninya. Tantangan-tantangan organisasi dapat dibedakan menjadi dua, eksternal dan internal. Masalah-masalah internal yang sering muncul antara lain: karakter organisasi, serikat pegawai, sistem informasi, perbedaan-perbedaaan individual pegawai, dan sistem nilai manajer dan karyawan. Tantangan eksternal terdiri dari variabel-variabel yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan (uncontrollable).









