nevatera

Ikon

sekedar berterima kasih kepada dunia

Mencapai Titik Kebahagiaan

“Maka adalah sebuah gua, di mana ada beberapa tawanan yang diikat menghadap ke dinding belakang gua. Mereka sudah berada di sana seumur hidup dan tidak bisa melihat ke mana-mana, hanya bisa melihat ke depan saja.

Akan tetapi mereka bisa melihat bayang-bayangan orang di dinding belakang gua. Bayang-bayangan ini disebabkan oleh sebuah api yang berkobar di depan, di lubang masuk ke gua ini dan orang-orang di luar gua yang berjalan berlalu lalang. Para tawanan bisa melihat bayang-bayangan orang ini dan suara-suara mereka yang menggema di dalam gua.

Maka pada suatu hari, salah seorang tawanan dilepas dan dipaksa keluar. Ia disuruh melihat sumber dari bayangan ini semua. Akan tetapi api membuat matanya silau, ia lebih suka melihat bayangannya. Lama kelamaan ia bisa melihat api dan lalu ia mulai terbiasa dan melihat orang-orang yang lalu lalang.

Kemudian ia keluar dan melihat matahari (simbol daripada kebenaran), yang sebelumnya hanya sedikit bayangannya yang terlihat, sungai, padang dan sebagainya.

Lalu ia dipaksa kembali ke gua lagi dan hal pertama yang akan dilakukannya adalah membebaskan kawan-kawannya. Akan tetapi kawan-kawannya akan marah karena hal ini akan menganggu ilusi mereka. Akhirnya mereka bukannya terima kasih tetapi akan sangat marah dan membunuhnya.”

Aforisme Plato di atas membuat saya bergidik dan diam, jangan-jangan saya sedang berada pada situasi yang sama, saya takut kehilangan ilusi yang selama ini saya nikmati. Saya takut melihat api dan matahari, tantangan nyata, saya intim dengan mimpi-mimpi saya. Bahkan ketika api dan matahari di depan mata, saya masih ragu untuk melihat, apa lagi menyentuhnya. Saya takut kesempatan pertama dulu yang hilang kembali, saya tidak mampu menyentuhnya, alih-alih menyentuh yang lain. Kesempatan kedua ini menjadi satu pijakan resolusi dan revolusi hidup saya.

Hidup dalam ilusi sangat nikmat dan tanpa beban, kita hanya butuh bayang-bayang yang sejatinya mengontrol hidup kita. Kita bisa mengganti dengan apa saja, bayang-bayang akan menuruti kehendak kita, apa lagi bayang-bayang hanya sekedar di otak kita. Ketika dihadapkan pada situasi sebenarnya sering kali malah hasilnya lemah tidak berdaya.

Ah.. apakah saya menghadapi persoalan yang cukup berat hari ini? Saya kira kok tidak. Hari ini saya berbahagia, satu jalan kehidupan baru membentang di depan mta. Satu kehidupan yang mungkin ribuan, bahkan jutaaan orang mendambakan. Tinggal mencari ilmu, memperbaiki diri, berdoa, menjaga kehidupan sosial, terus belajar, maka mengalirlah kehidupan bahagia!(sic). Mengayunkan kaki untuk lompatan besar, itu yang musti saya kerjakan.

Atau mungkin hari ini saya takut kehilangan sesuatu yang selama ini dimiliki; pekerjaan, teman-teman yang baik, lingkungan yang religius, sahabat-sahabat yang erat, teman diskusi yang hangat, dan orang-orang yang saya sayangi, semua akan ditinggalkan. Kalau itu yang terjadi saya harus bahagia, karena saya masih diberi kesempatan menikmati cinta mereka. Cinta akan dirasakan kalau kita ditinggalkan ya?

Hidup adalah pilihan, walapun kita kadang terbatas dengan pilihan itu (kalimat ini sering saya ulang-ulang terus). Tidak, sekali lagi tidak, sebenarnya saya atas karunia Allah SWT memiliki heterogenitas pilihan yang mungkin juga saya tidak mampu membedakan pilihan-pilihan itu. Saya yang kerasan dalam gua jangan-jangan tidak mampu melihat pilihan-pilihan hidup dalam dunia nyata. Saya silau oleh cahaya pilihan nyta dan saya hidup dalam dunia bayang-bayang. Itu saja saya sudah bahagia dengan hidup dalam bayang-bayang-bayang.

Apa lagi satu tahap kehidupan yang nyata terbuka, saya musti menyambut dengan suka cita ya, bukan dengan kata-kata sedih.

Saya mencintai Kota Malang mulai detik ini, saya bahagia menatap silaunya api dan matahari.

Filed under: Perubahan

Mentalitas Hidup Bersih: Keharusan Mengandaikan Kebisaan

“Ha..ha..ha… Stereotype itu membuat saya harus berulang kali menjelaskan dan menerangkan. Bahwa tidak setiap santri itu berpenampilan lusuh, dekil, kumuh dan apa adanya. Saya pernah nyantri. Kesan terhadap santri itu berasal dari luar, itu sering merepotkan saya, terutama setelah lama bergaul dan mereka tahu latar belakang kehidupan saya. Satu sisi karena saya sadar sepenuhnya kehidupan santri, saya tidak rela kehidupan santri dilecehkan itu sisi lainnya.

Ungkapan (penulis tidak tahu kenapa dia harus memulai kalimat dengan tertawa dulu, satire atau paradoks) tersebut keluar dari teman penulis ketika suatu saat bertemu di satu acara pernikahan. Kebetulan penulis menceritakan pekerjaan di pesantren yang penulis jalani. Seperti biasanya obrolan mengarah kemana-mana, dari yang remeh temeh sampai yang berat-berat. Penulis mengakui keluasan perpektif pengetahuan dan cakrawala berfikir sistematis dia. Dia mampu melihat persoalan dari bermacam-macam sudut pandang, tidak hitam putih, benar-salah.

Pemuda-santri, teman penulis tersebut, mengeluhkan pelabelan (stereotype) masyarakat terhadap santri (pesantren pada umumnya). Dia pernah hidup di pesantren cukup lama dan sekarang menjadi pedagang. Penampilannya rapi, bersih dengan mobil jenis van keluaran terbaru. Pastinya! Dia belum punya istri, usianya belum genap kepala tiga. Contoh sukses seorang pemuda-santri yang patut di kuntit. Selama menghabiskan masa sekolah menengah atas dan studi S-1, dia pergunakan waktu di pesantren di sela rutinitas belajar-ngaji sehari-hari.

Santri, Pesantren dan Budaya (Islam): Siapa Yang Sakit?

Sebuah teori hubungan antar kebudayaan dan kepribadian mengungkapkan bahwa, kepribadian mengacu pada ciri-ciri khas dan sifat-sifat yang mewakili sikap atau tabiat seseorang. Termasuk dalam konsep kepribadian adalah pola-pola pemikiran, perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas dan segala kebiasaan-kebiasaan. Individu dan perilakunya disesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Toh, kepribadian ada yang selaras dan ada yang tidak selaras dengan budaya, alam serta sosial.

Nah, menjelaskan teori tersebut dengan kondisi-situasi sebuah pondok pesantren (dengan stereotype yang diungkap teman penulis) seperti apa? Kalau ternyata ada sesuatu yang kurang (sakit?), siapa sebenarnya sumber kumannya? Apakah pribadi (dalam hal ini santri), masyarakat (dalam hal ini pesantren) atau budayanya (Islam)? Kalau sudah ketemu kumannya, bagaimana dan apa vaksinnya, biar santri dan pesantren imun?

Santri memiliki kepribadian berbeda, jika santri suatu pesantren 1.500 orang maka sejumlah itu pula kepribadian yang ada. Walaupun keberadaan santri sangat beragam, bukan berarti mereka sama sekali berbeda di lihat dari latar belakang budaya asalnya. Secara umum motif yang paling tampak mengenai keberadaan dan niat santri di pesantren (untuk ngaji), lebih mengarah ke aspek motif sosiogenetis. Motif ini menonjol karena beberapa hal; (1) sebagian besar orang tua santri berlatar belakang pendidikan pesantren; (2) sebagian besar lingkungan asal santri adalah pesantren; dan (3) sebagian besar santri berasal dari kalangan rural agraris. Dengan melihat itu, dapat dipastikan bahwa pola-pola pemikiran, perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas dan segala kebiasaan-kebiasaan. Individu dan perilakunya disesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaan santri berjauhan secara diametral.

Keberadaan santri yang relatif homogen berkelindan dengan denyut kehidupan pesantren menjadikan kepribadian mereka semakin kuat berkarat. Ini karena apa? Kehidupan masyarakat pesantren menawarkan kehidupan yang tidak jauh berbeda seperti ritme kebiasaan mereka di rumah dan lingkungan asal.

Pesantren memiliki seperangkat aturan, norma-norma, adat istiadat selain agama sebagai pegangan hidup santri, ustadz, pengurus dan pengasuh. Perangkat-perangkat tersebut membuat sebuah masyarakat pesantren, selain masyarakat sekitarnya (penduduk bukan santri). Budaya yang hidup dalam pesantren adalah islam. Artinya, landasan moral dan landasan tindakan di pesantren menggunakan ajaran-ajaran islam.

Persoalannya, kalau pesantren (terutama santri), seperti dikemukakan teman penulis, memiliki stereotype berpenampilan lusuh, dekil dan jorok, siapa yang salah (sakit!)?

Tidak mungkin budaya islam (ajaran) yang salah? Banyak ajaran mengenai menjaga kebersihan, kesucian, menjauhi najis dan lain-lain dalam islam. Asumsi penulis, yang menjadikan pesantren memiliki streotype negatif berhubungan dengan kebersihan adalah terletak pada kepribadian santri dan masyarakatnya (jadi masyarakat dan santri sakit!).

Jadi, kalau pesantren terkenal kumuh, kotor dan tidak bias menjaga kebersihan itu disebabkan karena santri dan masyarakat pesantren!

Ada satu cerita yang diungkap Dedy Mulyana dalam bukunya Islam di Amerika Serikat. Dia mengungkap bahwa nilai-nilai islam sangat terasa diterapkan di sana; kebersihan, menepati janji, angka korupsi relatif kecil (korupsi itu mencuri) dan lain-lain. Penulis sering sedih jika mengatakan hal ini kepada teman-taman penulis, ada yang berkomentar, “Itu-kan di Amerika, kita-kan ada di Indonesia bahkan kita berada di pesantren?”. Dus, sepertinya perilaku hidup tidak sehat (tidak bisa menjaga kebersihan, jorok dan lain-lain) adalah pembenaran karena mereka (anak-anak penulis) hidup di pesantren, sehingga wajar saja santri berpribadi seperti itu.

Maksud penulis, sebenarnya-kan tidak ada persoalan dengan ajaran islam mengenai kebersihan dan segala tindakan yang mengarah ke sana. Tapi kenapa santri dan masyarakat pesantren tidak mau menjalani ajaran islam tersebut?. Satire.

Penulis yang merupakan bagian masyarakat pesantren sering merasa tertampar jika pesantren dan santri sering diangggap menderita penyakit (dalam psikologi sering disebut verbalisme). Verbalisme adalah mempelajari, mengerti, memahami dan mempercayai mengenai sesuatu kebenaran tapi tidak melaksanakan apa yang dipelajari dan apa yang diyakini. Paradoks. Indah di mulut tapi buruk dalam tindakan.

Melakukan perubahan tidak mudah. Perubahan sering menjadikan sakit hati. Karena perubahan berarti menggantikan kesenangan dan kebiasaan (kepribadian) seseorang dengan hal baru yang kadang tidak sesuai dengan kehendak pribadi. Santri yang secara geografis berasal dari masyarakat rural agraris akan sulit berubah jika masyarakat pesantren tidak mengupayakan dengan sungguh-sungguh. Filsuf Kant menegaskan bahwa “Keharusan mengandaikan Kebisaan”. Bagiamana mengharuskan santri untuk hidup bersih dan sehat jika santri tidak bisa dan biasa?. Masyarakat rural agraris biasa dimanjakan oleh alam dan masih sulit menjaga lingkungan dan melestarikan lingkungan. Bersih-bersih mencakup hati dan tindakan. Batin dan fisik. Individu dan kolektif. Peribadi dan masyarakat. Santri dan pesantren. Dan pesantren (pengurus, ustadz/ustadzah dan pengasuh) bisa mengawali hidup bersih dan sehat. Bersih-bersiiih.

*) Ocha, tulisan ini buat kamu, kelak Nevatera harus gigih seperti kamu ya… salam hangat..

Filed under: Gaya Hidup

Jebolnya Watak Keadilan

Saya sebenarnya miris, lihat opini kompas hari ini, Merombak dan Menjebol Watak (Mohamad Sobary), persoalan Kejaksaan Agung yang centang perenang menjadi titik diskusi. Jaksa Agung Hendarman Supanji mengeluhkan kewibawaan dan kredibilitas Kejaksaan Agung, rontok. Mohamad Sobary balik bertannya, bahwa sejak Orde Baru, hingga hari ini, Kejaksaan Agung tak pernah -mungkin belum-punya kewibawaan maupun kredibilitas. Jadi apanya yang rontok dan kapan?

Saya memahami kegeraman Kang Sobary dan saya kira tidak akan jauh berbeda dengan pendapat rakyat kebanyakan. Mungkin Kang Sobary akan semakin geram begitu tahu bahwa Ayin masih punya kesempatan membuat skenario di pengadilan dengan Urip Tri Gunawan di balik terali besi. Muladi menyebutnya sebagai penyakit PMS atau penyakit menular masa lalu untuk menggambarkan kondisi rusaknya mental pejabat.

Sebenarnya mudah saja bagi saya untuk menyelesaikan persoalan ini, tinggal potong kaum tua di Kejaksaaan Agung, pecat semua ganti dengan yang baru. Semua pejabat di Kejaksaan Agung secara moral harus mau bertanggung jawab terhadap persoalan ini, tidak sekedar berkeluh kesah dan merasa terpojok. Terpojok dan “diserangnya” Kejaksaaan Agung, terutama oleh media, bukan karena kesalahan media. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Siapa bermain air siap-siaplah basah.

Rakyat Indonesia sudah lelah menunggu sedikit perubahan sebagai buah reformasi, bukan malah mempertontonkan ketidakadilan yang dilakukan oleh lembaga peradilan, sekali lagi lembaga bukan pribadi. Kenapa saya menyebut lembaga, sebab beberapa nama di Kejaksaaan Agung terindikasi terlibat, beberapa orang, bukan satu dan ini adalah lembaga.

Mari kita kubur ingatan kita tentang watak arif orang semakin tua semakin bijaksana. Generasi tua di Kejaksaan Agung hanya sekelompok orang yang akan memapankan posisi, kepentingan, dan kekuasaannya. Kita tidak mungkin berharap banyak dengan sosok-sosok tua seperti itu. Sosok yang mungkin tidak akan memilki jiwa progresif revolusioner. Sebuah jiwa yang akan memberangus ketidakadilan. Hanya pada sosok-sosk muda saya berharap banyak.

Filed under: kerakyatan

Flickr Photos

MY FIRST ASAKUSA

Pencil Vs Camera - 66

More Photos

Donkey Kong Games

Get the Donkey Kong widget and many other great free widgets at Widgetbox!

Blog Stats

  • 8,677 hits

technorati.com

Add to Technorati Favorites
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.