
“Maka adalah sebuah gua, di mana ada beberapa tawanan yang diikat menghadap ke dinding belakang gua. Mereka sudah berada di sana seumur hidup dan tidak bisa melihat ke mana-mana, hanya bisa melihat ke depan saja.
Akan tetapi mereka bisa melihat bayang-bayangan orang di dinding belakang gua. Bayang-bayangan ini disebabkan oleh sebuah api yang berkobar di depan, di lubang masuk ke gua ini dan orang-orang di luar gua yang berjalan berlalu lalang. Para tawanan bisa melihat bayang-bayangan orang ini dan suara-suara mereka yang menggema di dalam gua.
Maka pada suatu hari, salah seorang tawanan dilepas dan dipaksa keluar. Ia disuruh melihat sumber dari bayangan ini semua. Akan tetapi api membuat matanya silau, ia lebih suka melihat bayangannya. Lama kelamaan ia bisa melihat api dan lalu ia mulai terbiasa dan melihat orang-orang yang lalu lalang.
Kemudian ia keluar dan melihat matahari (simbol daripada kebenaran), yang sebelumnya hanya sedikit bayangannya yang terlihat, sungai, padang dan sebagainya.
Lalu ia dipaksa kembali ke gua lagi dan hal pertama yang akan dilakukannya adalah membebaskan kawan-kawannya. Akan tetapi kawan-kawannya akan marah karena hal ini akan menganggu ilusi mereka. Akhirnya mereka bukannya terima kasih tetapi akan sangat marah dan membunuhnya.”
Aforisme Plato di atas membuat saya bergidik dan diam, jangan-jangan saya sedang berada pada situasi yang sama, saya takut kehilangan ilusi yang selama ini saya nikmati. Saya takut melihat api dan matahari, tantangan nyata, saya intim dengan mimpi-mimpi saya. Bahkan ketika api dan matahari di depan mata, saya masih ragu untuk melihat, apa lagi menyentuhnya. Saya takut kesempatan pertama dulu yang hilang kembali, saya tidak mampu menyentuhnya, alih-alih menyentuh yang lain. Kesempatan kedua ini menjadi satu pijakan resolusi dan revolusi hidup saya.
Hidup dalam ilusi sangat nikmat dan tanpa beban, kita hanya butuh bayang-bayang yang sejatinya mengontrol hidup kita. Kita bisa mengganti dengan apa saja, bayang-bayang akan menuruti kehendak kita, apa lagi bayang-bayang hanya sekedar di otak kita. Ketika dihadapkan pada situasi sebenarnya sering kali malah hasilnya lemah tidak berdaya.
Ah.. apakah saya menghadapi persoalan yang cukup berat hari ini? Saya kira kok tidak. Hari ini saya berbahagia, satu jalan kehidupan baru membentang di depan mta. Satu kehidupan yang mungkin ribuan, bahkan jutaaan orang mendambakan. Tinggal mencari ilmu, memperbaiki diri, berdoa, menjaga kehidupan sosial, terus belajar, maka mengalirlah kehidupan bahagia!(sic). Mengayunkan kaki untuk lompatan besar, itu yang musti saya kerjakan.
Atau mungkin hari ini saya takut kehilangan sesuatu yang selama ini dimiliki; pekerjaan, teman-teman yang baik, lingkungan yang religius, sahabat-sahabat yang erat, teman diskusi yang hangat, dan orang-orang yang saya sayangi, semua akan ditinggalkan. Kalau itu yang terjadi saya harus bahagia, karena saya masih diberi kesempatan menikmati cinta mereka. Cinta akan dirasakan kalau kita ditinggalkan ya?
Hidup adalah pilihan, walapun kita kadang terbatas dengan pilihan itu (kalimat ini sering saya ulang-ulang terus). Tidak, sekali lagi tidak, sebenarnya saya atas karunia Allah SWT memiliki heterogenitas pilihan yang mungkin juga saya tidak mampu membedakan pilihan-pilihan itu. Saya yang kerasan dalam gua jangan-jangan tidak mampu melihat pilihan-pilihan hidup dalam dunia nyata. Saya silau oleh cahaya pilihan nyta dan saya hidup dalam dunia bayang-bayang. Itu saja saya sudah bahagia dengan hidup dalam bayang-bayang-bayang.
Apa lagi satu tahap kehidupan yang nyata terbuka, saya musti menyambut dengan suka cita ya, bukan dengan kata-kata sedih.
Saya mencintai Kota Malang mulai detik ini, saya bahagia menatap silaunya api dan matahari.










Ayah?
Pindah ke malang,…
Apa kenyataan itu pasti lbh baek yah???
Oleh: Novi on Agustus 10, 2008
at 4:32 pm
mudah-mudahan ya nov.. doakan ya..oh yaa kapan-kapan maian ke tempat saya nanti saya kontak lagi.
Oleh: nevatera on Agustus 11, 2008
at 9:45 am