Tepat ketika itu, enam tahun lalu, saat semua pagi akan menjadi lebih buruk dari hari ini – sampai pada saat tibanya hari – saya terus berfikir kenapa tiba-tiba tertambat di sini. Awan bersih gilang gemilang pagi itu bersama-sama dengan gemericik air sungai akan saya ingat sebagai permulaan baik, membesut pekerjaan setelah berkutat dengan kuliah. Kelak saya tidak membayangkan, enam tahun kemudian, saya mengalami peristiwa seperti itu lagi, walaupun tidak serupa. Bedanya tidak ada teman saya yang cantik.
Ide tulisan ini meloncat-loncat dan akan saya biarkan seperti ini, bukankah perasaan saya hari ini meloncat-loncat.
Tepat saat ini, enam tahun kemudian, saya mengalami lagi satu momentum untuk menapaki satu lorong hidup yang kata-nya lebih baik. Lorong ini, kata-nya juga, tidak terlalu berliku-liku, saya senang sekali. Rasanya akan menjadi menusia baru lagi dengan derajat keintiman baru; keintiman ruang, waktu, keintiman lingkungan, pertemanan, persahabatan, dan tentu saja konflik. Konflik? Ya, saya mulai percaya untuk mengelola konflik daripada bertarung. Konflik dalam artian positif, kompetisi.
Hari ini dan hari-hari selanjutnya menjadi satu titik tolak berangkat yang positif untuk masa mendatang, saya percaya itu.
Hari-hari ini adalah hari depan dengan mimpi-mimpi, peristiwa masa lalu hanyalah sekedar ingatan an sich. Semakin berupaya memendam dan segenap upaya menghancurkannya, pada saat bersamaan merupakan sebuah upaya mengingat. Maka saya lebarkan tangan-tangan saya, saya kembangkan jari-jari serta buku-buku telapak tangan biar semua terlepas dan menguap. Biar peritiwa enam tahun lalu, yang sayangnya sering menghantui, lepas dari belenggu diri, saya ingin mengingat hari-hari selanjutnya, setelah hari itu, yang membuai kebutuhan mendasar psikologis saya.
Saya ingin mengingat hari-hari selanjutnya, setelah hari itu, yang membuai kebutuhan mendasar psikologis saya.
Hari itu penting, enam tahun lalu – saat semua pagi akan menjadi lebih buruk dari hari ini – tapi hari-hari selanjutnya jauh lebih bermakna. Saya bisa menghirup keluh kesah “manusia bukan siapa-siapa”, saya bisa merasakan sakit lukanya, saya bisa merasakan ketidakberdayaan karena memang tidak ada pilihan. Hari-hari selanjutnya saya akan merasakan hangatnya ikatan kekeluargaan mereka, walaupun lingkungan beringas mengancam. Mudah-mudahan pada garis demarkasi itu tepat saya ambil; bukan pada penindas kita berpihak tetapi kepada yang tertindas, penguasa harus dididik dengan perlawanan. Penguasa hati dan cinta harus dididik dengan perlawanan hati juga.
Penguasa hati dan cinta harus dididik dengan perlawanan hati juga.
Saya benar-benar melawan hati saya ketika itu, enam tahun lalu, saat semua pagi akan menjadi lebih buruk dari hari ini. Hari itu tidak sebaik sekarang, hari Ini. Karena hari ini saya bertemu dengan orang yang sama.










Peristiwa apa neh? Mpe g’ bisa dlupain…
Kt ayah bom waktu msh berlaku g’? Kalo kita srng ktmu ma org yg sama terus ^_^
Oleh: Novi on Agustus 11, 2008
at 4:44 pm
aduh…masa depan yang terbunuh masa lalu. tapi saya senang dengan optimisme kamu… sukes.
Oleh: arif on Agustus 26, 2008
at 7:49 am