Oleh: teguh triwiyanto | Agustus 26, 2008

Mentari Pagi Masa Depan; Kepada Siapa Saya Berterima Kasih

Bahasa paling sederhana untuk mengucapkan kebahagiaan saya kepada teman-teman saya, kalau tidak keberatan saya sebut keluarga, yaitu terima kasih. Saya mencintai mereka layaknya setiap jengkal tubuh saya. Walapun mungkin saya sering menyakiti hati mereka, saya yakin, seperti juga saya kepada mereka, pasti akan memaafkan saya. Saya takut, walaupun itu sebenarnya sudah saya buang jauh-jauh, karena di tengah gaduh kota ini saya masih merasa sepi. Teman-teman saya mungkin maklum, ini tempat baru dan masih dalam hitungan hari di sini. Alih-alih mengucapkan terima kasih, saya merindukan dan membayangkan suasana hangat bersama mereka.

Dulu saya menyukai mereka, sampai saat ini, bahkan kelak. Mereka yang berwarna-warni dan saya merupakan identifikasi dari mereka, satu-satu atau secara kolektif. Warna warni hidup saya banyak tercipta dari mereka. Diam-diam saya menyerap setiap kebijaksanaan mereka. Diam-diam saya mengagumi mereka dan saya merenung untuk sama seperti mereka.

Saat ini saya merindukan mereka, teman-teman saya, yang kalau berkenan, saya sebut keluarga.

Saya tidak berromantisme atau berkenes-kenes dengan kata atau kalimat-kalimat. Saya sebenarnya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka, tapi perasaan saya kepada mereka begitu melimpah ruah. Pada titik inilah kemudian saya merasa seluruh tulang belulang saya dilolosi sehingga tidak mampu berkata apapun. Kepada mereka saya ingin menghirup nafas kebijaksanaan sehingga saya bisa terus tegak berdiri.

Mereka: Nuktohul Huda, Ahmad Faizun, Purwoto, Teguh Arifiyanto, Ahmad Yusri Nu’man, Rustiyadi, Lilik Nuroiniyah, Purwanti, Triyatun, Mujiharno, H. Sarifuddin, H. Gunawan Fahmi, Noor Habib Sulton, Fajar Hudan, Hadi Mansur, H. Mu’tashim Billah, Marsudi, Bantara, Ahmad Tohir, Siti Yuliatun, Rubiyatun, H. Budi Suprapto, Nuruddin, Hj. Fany, Hj. Ema, Maftukhin, Sumanto, Muhamamudin, Anita Harun, Aini Fajriyah, Arifatul Hikmah, H. Arif Hakim, Zahron, Idham Kholid… (aduh banyak sekali ya… tapi pokoknya semua ya). Nah, dengan kebijaksanaan hidup merekalah saya mengidentifikasi diri dan saya mengucapkan terima kasih ya.

Mudah-mudahan ini jadi cambuk saya untuk berbuat yang lebih baik, walapun saya juga tidak merasa yakin bahwa saya sudah baik. Saya bangga dan bahagia bisa kenal dan mengenal mereka sedemikian jauh dan lama.

Dus… Akhirnya, mudah-mudahan Nevatera, dengan seluruh cinta sederhana ini kepadanya, akan tetap menjadikan semua ikatan ini tidak terputus dan utuh.


Tanggapan

  1. bagus.tolong web blog-ku dilinks ya…. milikmu dah aku links

  2. yap… terima kasih

  3. [...] Mentari Pagi Masa Depan; Kepada Siapa Saya Berterima Kasih [...]


Beri tanggapan

Your response:

Kategori