Salah pilih alokasi variabel pembiayaan pendidikan akan memberikan sumbangan terhadap terpuruknya mutu proses dan hasil pendidikan. Variabel biaya pendidikan biasanya dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikaan, gaji/kesejahteraan guru dan pegawai, pengadaan prasarana pendidikan, pembinaan professional, pengelolaan sekolah, pengadaan alat-alat pelajaran, pemeliharaan sarana pendidikan, dan pembinaan siswa. Besar biaya tiap variabel tersebut bisa dijadikan petunjuk, bahwa variabel yang mempengaruhi mutu proses dan hasil pendidikan bervariatif. Jika variabel biaya pendidikan memiliki kontribusi signifikan terhadap mutu proses dan hasil pendidikan, maka manipulasi manajemen dapat dilakukan. Penambahan biaya input pendidikan, untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, dapat dilakukan dengan mengalokasikan biaya pada variabel yang nyata-nyata memberikan kontribusi signifikan terhadap mutu proses dan hasil pendidikan.
Ada keterkaitan biaya dan mutu proses dan mutu hasil belajar. Mutu proses suatu lembaga pendidikan akan sangat ditentukan oleh faktor pembiayaan pendidikan, baik dalam besarnya, pengalokasian yang tepat, maupun pemanfaatan realisasi biaya yang mengarah kepada kebutuhan proses pembelajaran. Kemampuan pengelolaan mutu guru, mutu alat, mutu bahan, dan mutu siswa akan berkaitan satu sama lain dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan. Ketersediaan komponen-kompoen tersebut akan menciptakan kondisi yang baik untuk proses pembelajaran dan pada gilirannya akan berpengaruh dan memberikan kontribusi pecapaian prestasi belajar peserta didik.
Input-input berikut memiliki pengaruh yang sangat signifikan pada prestasi anak didik di negara-negara berkembang. Input-input pendidikan tersebut meliputi biaya per siswa, perbandingan siswa dengan guru, buku teks, buku tambahan, alat bantu mengajar, bangku, mutu fasilitas, perpustakaan sekolah, program pemberian makanan, lama pendidikan pendidik, pengetahuan pendidik terhadap pelajaran, pengalaman pendidik, dan waktu pengajaran.
Biaya pengelolaan satuan pendidikan mempunyai rasio produk marjinal terhadap harga riil dari suatu input/marginal rate of technical substitutions (MRTS) paling tinggi untuk meningkatkan pencapaian mutu proses pendidikan, sementara biaya pembinaan kegiatan peserta didik mempunyai MRTS yang tertinggi meningkatkan pencapaian mutu hasil pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan menaikkan biaya pengelolaan satuan pendidikan dan menaikkan biaya pembinaan peserta didik akan menaikkan pencapaian mutu proses dan hasil pendidikan. Produk marjinal ini menggambarkan seberapa besar unit harus ditambahkan untuk menghasilkan tambahan satu unit pengukuran pencapaian mutu proses dan hasil pendidikan.
Peningkatan mutu proses dan hasil pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan pemilihan terhadap rasio produk marjinal terhadap harga riil dari suatu input/marginal rate of technical substitutions (MRTS) paling tinggi. Penggunaan MRTS, berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, ditemukan beberapa variabel biaya pendidikan yang berkontribusi secara signifikan terhadap mutu proses dan mutu hasil belajar yaitu biaya pengelolaan sekolah dan biaya pembinaan peserta didik. Implementasi metode MRTS dijabarkan dalam fase-fase-fase yaitu eksplorasi, pengenalan konsep, penerapan konsep (engagement), exploration, explanation, elaboration, evaluation.
Nah, jika anggaran pendiikan Indonesia semakin besar, 20 persen dari APBN, maka ketepatan dalam pemilihan variabel pembiayaan pendidikan menjadi penting. Lalai dalam hal tersebut dapat membuat terperosok pada rendahnya mutu.










Nah, pak postingan ini kudu dibaca para caleg atau para cabub dan cagub neh. Pasalnya mereka tuh sering banget jadiin pendidikan sebagai barang jualan, yg katanya bakal gratis lah sekolahnya
sebelum memperhitungkan variabel-variabel yg di atas,
yang nyatanya masih sulit untuk ditempuh.
Oleh: Novi on Januari 14, 2009
at 8:50 am
Sepakat! harus pandai-pandai memilih mana yang urgent dibiayai. Sementara ini kan anggaran yang banyak hanya berusaha dihabiskan dengan program yang gak jelas. Sebagai contoh, perguruan tinggi banyak mendapatkan project yang tanpa seleksi sehingga kualitas dan kebermanfaat project tersebut dipertanyakan.
Sayang uang rakyat, yang mungkin masih membutuhkan perhatian.
Oleh: Puji Rahayu on Januari 22, 2009
at 3:41 am