Oleh: teguh triwiyanto | April 1, 2009

Dongeng, Cinta, Dan Sunyi Ditepi Batu

scan0010Simpul demokrasi, nama yang menaburkan harapan sekaligus penguatan. Anak kandungnya Sekolah Demokrasi (SD), semoga virusnya cepat merasuk ke diri peserta, mengandaikan jejaring sosial berbasis demokrasi terbangun karenanya. Sebuah usaha melelahkan, siapa pun pelakunya, menyeret-nyeret bangsa yang sedang dirundung berbagai persoalan.

Tulisan ini sekedar refleksi, tidak menukik dan dibiarkan liar mengarah ke mana saja, atas keterlibatan sebagai peserta sekolah demokrasi. Semoga jadi penanda positif membungkam kebuntuan pembudayaan demokratik yang rendah, terutama saya rasakan. Budaya monolitik saat orde baru dan pergeseran kearah sebaliknya kadang menguncang-guncang kenyamanan saya, atau jangan-jangan ini disorientasi. Tapi semua itu, termasuk memasuki SD, adalah ikhtiar memasuki ranah Indonesia yang terus berubah wajah.

Dongeng

Jejak dari langkah belum lagi kering, saat amunisi kata-kata menyeruak dari bilik-bilik jendela ruangan tidak begitu luas. Peluh dan kantuk bukan palang penghalang untuk terus menuturkan ayat-ayat demokrasi. Terkadang lengkingan terdengar dari seseorang yang kurang setuju pendapat teman sebelah, senyap, lalu muncul kembali celotehan segar dari sudut lain. Narasi besar besar mengaliri setiap gerak tubuh dan otak, pada saat bersamaan gelegak gelombang ketidakpuasan sekali-kali menghajar. Tentu saja tidak puas dengan pembungkaman demokrasi. Ini memang dongeng sebuah negeri demokratik di tengah kuat arus pembungkaman.

Tepat di muka-tengah, nara sumber terus menyusuri setiap inci dasar demokrasi. Warga sekolah demokrasi tentu saja riang gembira menyambut diskusi tawaran nara sumber. Sudut-sudut kursi awalnya rapi – berlahan berderit, bergeser, dan miring kanan-kiri – berubah centang perenang. Jangan ditanyakan bagaimana proses pembelajaran mampu meyakinkan peserta sekolah untuk meyakini nilai-nilai demokrasi, sebab semua berangkat dari rumah yakin duluan.

Matahari terus beringsut ke barat, teman-teman sekolah demokrasi terus mencari jawaban kepada narasumber. Beberapa kali Prof. Soetandyo Wignjosoebroto melap peluh dikeningnya, panas udara tentu saja, selain teman-teman sekolah demokrasi menghujani banyak pertanyaan. Setelah menempuh perjalanan Medan – Malang, alih-alih istirahat malah diskusinya hangat sekali. Semoga Allah memberikan usia panjang dan kesehatan baik buat beliau. Prof. Kacung Marijan, semoga Allah terus menjaga kesehatan beliau dan terus bermanfaat untuk bangsa. Sentuhan manusiawinya banyak menyadarkan, bahwa demokrasi dimulai pada level paling kecil, keluarga. Pesan beliau-beliau, sekali-kali tengoklah sejarah, bahwa demokrasi telah dipraktekkan di Yunani tahun 500 sebelum masehi. Bahwa proses belajar demokrasi Indonesia masih panjang.

Jejak langkah, kursi berderit-bergeser, dan matahari yang terus beringsut ke barat memberikan kedamaian dibandingkan membicarakan perbedaan. Warna warni peserta SD berada dititik tidak merata, berangkat dari elemen masyarakat sipil, benar-benar majemuk. Parpol, agamawan, LSM, pengusaha, pendidik, dan kaum muda progresif benar-benar sedang menyemai di ladang demokrasi.

Kelak dongeng tentang teman-teman SD mungkin akan mudah dijumpai disetiap lembaran sejarah. Siapa tidak yakin semua itu akan terjadi kalau riuh rendah tuntutan perbaikan hampir selalu mewarnai sesi-sesi diskusi. Sejarah demokrasi yang akan menceritakan kebaikan semata-mata, bukan carut marut luka dan coreng moreng dosa demokrasi yang dibuat.

Suara-suara berlahan senyap, malam benar-benar menelan siang. Dinding Mutiara dan Perdana memeluk peserta sekolah demokrasi dengan kehangatan. Ditariknya selimut, dijulurkannya badan, otot diregang dan sesi istirahat dimulai setelah satu harian penuh diskusi. Semua tenggelam dalam kepuasan, kemudian mimpi-mimpi cinta mendarat landai, tepat di tengah padang thanatos.

Cinta

Mimpi-mimpi demokrasi menghampiri dan menyapa, jangan tolak kedatangannya. Setiap usaha menghalangi merupakan sebuah kesia-siaan, semakin kuat menghindar akan semakin kuat melekat. Setelah kilasan-kilasan peristiwa silih berganti hadir dalam mimpi, tampil babak baru, memimpikan cinta.

Jangan lupakan bahwa di SD tumbuh semacam cinta ideal. Sebuah cinta yang menjadikan gagasan demokrasi mengikat bersama elemen-elemen eksistensi manusia – secara fisik melalui perjumpaan, secara emosional melalui cinta, dan secara mental melalui imajinasi. Narasi demokrasi mengikat perjumpaan, cinta dan imajinasi.

Perjumpaan dalam kadar yang dalam akan menghujam – melekat – pada nilai-nilai kemanusiaan. Teman-teman SD tentu saja berjumpa dengan nilai demokrasi, aktor demokrasi, dan atmosfir demokrasi. Kemelekatan ini sebenarnya merupakan salah satu testimoni keberhasilan teman-teman SD. Maka tidaklah diragukan aktor-aktor demokrasi ini akan mampu melakukan transformasi sosial yang menguncang-guncang ranah ke-Indonesiaan, dimana dan kapanpun.

Cinta selalu mengidealkan sesuatu yang dicintai. Idealisasi berarti kritik, keraguan, dan sikap permusuhan dikesampingkan agar tidak merusak dan sering kali bahkan dianggap milik orang atau kelompok lain. Tumbuh subur cinta peserta SD sekuat itu, saya kira, dan telah mengidealkan demokrasi tanpa persoalan. Padahal demokrasi hadir bukan tanpa kritik, jika peserta SD mau membandingkan dunia saat ini dengan dunia 500 tahun yang lalu, maka demokrasi akan tampak seperti keberhasilan besar. Namun jika bandingkan dunia demokrasi dengan apa yang tengah terjadi, maka demokrasi adalah kegagalan besar. Kata I. Wibowo (Kompas, 3/5/02), globalisasi ekonomi telah menyebabkan kematian demokrasi. Para pemimpin negara saat ini memang dipilih oleh rakyat, tetapi mereka ternyata lebih sibuk untuk “melayani” pelaku bisnis global yang tidak memilihnya. Pemilik cinta itu buta, tapi lingkungan mampu melihat. Ungkapan penulis drama abad 17 William Congreve mungkin tepat menggambarkan kondisi peserta SD, katanya: Jika ini bukan cinta, pasti kegilaan, dan tidak bisa dimaafkan.

Imajinasi memungkinkan bagi peserta SD untuk melepaskan diri dari cengkeraman cinta. Kemungkinan itu ada karena setiap orang memiliki kebebasan berfikir tentang segala yang disukai, dengan kebebasan tanpa batas (inkonsekuensial). Realita kadang tidak berkaitan dengan imajinasi, ngawur, jadi hati-hati.

Cinta memungkinkan peserta sekolah demokrasi untuk tetap hadir, menyapa, menyentuh, dan suntuk dalam diskusi. Kosakata ini membelenggu, padahal mustinya membebaskan. Imajinasi memungkinkan melepaskan belenggu, tapi dengan pendasaran realita.

Hari sudah beranjak siang. Imajinasi kuat yang terbawa terbawa mimpi sudah habis, waktunya kembali ke realita. Mendaratlah kaki-kaki peserta demokrasi ke tanah, dari tempat tidur. Mendaratlah pada alam realita, Kota Batu.

Sunyi Ditepi Batu

Tiba-tiba warna lokal menyergap, bau-bauan daun dan buah apel, kontur tanah meliuk-liuk, jajaran penginapan, lalu-lalang wisatawan, dan wangi bunga-bunga dataran tinggi. Cerah pagi menuntun langkah-langkah peserta demokrasi memasuki rumahnya sendiri, Kota Batu.

Teroponglah gerakan demokratisasi di Batu, untaian sejarah pembentukan, aktor-aktor demokrasinya, struktur kekuasaan, geliat civil society-nya, persoalan dan jalan keluar demokratiknya. Peserta sekolah demokrasi melayang-layang dan hinggap di depan H. Imam Hidayat, semoga Allah memberikan kesehatan dan umur panjang kepada beliau, yang banyak memberikan pemahaman mengenai Batu.

Kenapa sunyi di sini, dimana: SDM handal, sumber pembangunan yang memadai dan jaringan sosialnya. Ternyata otoritas pun masih otoritarian, basis ideologis lemah dan sebagian masih takut tersisih. Komunikasi masih satu arah, belum dua arah. Sunyi Kota Batu dari nilai-nilai demokrasi.

Tentu saja sekolah demokrasi tidak akan menyelesaikan, tidak akan mampu bekerja sendiri, semua persolan demokratik di Batu. Sebangun dengan itu, peserta sekolah demokrasi pun tidak serta merta menyelesaikan. Sekali lagi, ini ikhtiar demokratik. Ikhtiar yang meniscayakan kerja keras dan praksis demokratik bagi peserta sekolah demokrasi.

Saya ingin menjegal tulisan sampai sini. Terakhir, saya ingat Nietzsche – dalam Dendang Zarathustra- aforisme-nya menjulang dan berkobar, begini: peradaban yang tinggi adalah ibarat piramida: ia hanya bisa bertahan atas suatu landasan yang luas; prasyaratnya ialah hal-hal tanggung yang dikonsolidasikan secara tangguh dan ampuh. Tidak saja tabah menanggung segala keharusan (penderitaan), melainkan juga mencintainya.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori