Oleh: teguh triwiyanto | September 6, 2008

Merenda Ibadah Puasa

Akhirnya tiba juga puasa yang indah ini ya.. Tepat saya harus memulai aktivitas baru di UM, mengajar. Rasanya saya bahagia dan ingin berbagi kebahagiaan.

Puasa bagi saya merupakan momentum yang bagus untuk melakukan resolusi transendental kita. Pada aras lebih luas sebenarnya maknanya jauh dari itu, bahwa puasa merupakan aras sosial. Alih-alih transendental puasa mustinya menjadi media penanda bagi hadirnya kaum papa di dunia ini. Kaum yang miskin dan termiskinkan karena sistem yang membelenggu.

Benar-benar puasa merupakan media manusia menapaki nilai-nilai sosial. Puasa ini mustinya kebutuhan si kaum papa tercukupi, artinya ada peningkatan kesadaran umat. Hampir semua tempat ibadah islam saat puasa ini memang ramai dengan acara buka puasa bersama atau sahur bersama? Tapi diantara yang datang itu apa ada kaum papa?

Paling tidak pada puasa ini semua penguasa mengerem nafsu melakukan tindakan yang bisa melukai rakyat. Perilaku korupsif pada puasa ini semestinya trendnya menurun, ini kalau nilai sosial puasa memantul. Perilaku mengambil kebijakan yang memiliki dampak negatif bagi rakyat semestinya pada titik minimal di puasa ini. Puasa ini harusnya ada perbaikan perhatian penguasa kepada rakyat.

Nah, kalau indikator-indikator selama puasa ini tidak terjadi, maka puasa bagi bangsa ini tidak sempurna. Selamat menjalankan ibadah puasa mudah-mudahan kita bisa banyak melakukan refleksi dan aksi sosial.

Oleh: teguh triwiyanto | Agustus 26, 2008

Mentari Pagi Masa Depan; Kepada Siapa Saya Berterima Kasih

Bahasa paling sederhana untuk mengucapkan kebahagiaan saya kepada teman-teman saya, kalau tidak keberatan saya sebut keluarga, yaitu terima kasih. Saya mencintai mereka layaknya setiap jengkal tubuh saya. Walapun mungkin saya sering menyakiti hati mereka, saya yakin, seperti juga saya kepada mereka, pasti akan memaafkan saya. Saya takut, walaupun itu sebenarnya sudah saya buang jauh-jauh, karena di tengah gaduh kota ini saya masih merasa sepi. Teman-teman saya mungkin maklum, ini tempat baru dan masih dalam hitungan hari di sini. Alih-alih mengucapkan terima kasih, saya merindukan dan membayangkan suasana hangat bersama mereka.

Dulu saya menyukai mereka, sampai saat ini, bahkan kelak. Mereka yang berwarna-warni dan saya merupakan identifikasi dari mereka, satu-satu atau secara kolektif. Warna warni hidup saya banyak tercipta dari mereka. Diam-diam saya menyerap setiap kebijaksanaan mereka. Diam-diam saya mengagumi mereka dan saya merenung untuk sama seperti mereka.

Saat ini saya merindukan mereka, teman-teman saya, yang kalau berkenan, saya sebut keluarga.

Saya tidak berromantisme atau berkenes-kenes dengan kata atau kalimat-kalimat. Saya sebenarnya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka, tapi perasaan saya kepada mereka begitu melimpah ruah. Pada titik inilah kemudian saya merasa seluruh tulang belulang saya dilolosi sehingga tidak mampu berkata apapun. Kepada mereka saya ingin menghirup nafas kebijaksanaan sehingga saya bisa terus tegak berdiri.

Mereka: Nuktohul Huda, Ahmad Faizun, Purwoto, Teguh Arifiyanto, Ahmad Yusri Nu’man, Rustiyadi, Lilik Nuroiniyah, Purwanti, Triyatun, Mujiharno, H. Sarifuddin, H. Gunawan Fahmi, Noor Habib Sulton, Fajar Hudan, Hadi Mansur, H. Mu’tashim Billah, Marsudi, Bantara, Ahmad Tohir, Siti Yuliatun, Rubiyatun, H. Budi Suprapto, Nuruddin, Hj. Fany, Hj. Ema, Maftukhin, Sumanto, Muhamamudin, Anita Harun, Aini Fajriyah, Arifatul Hikmah, H. Arif Hakim, Zahron, Idham Kholid… (aduh banyak sekali ya… tapi pokoknya semua ya). Nah, dengan kebijaksanaan hidup merekalah saya mengidentifikasi diri dan saya mengucapkan terima kasih ya.

Mudah-mudahan ini jadi cambuk saya untuk berbuat yang lebih baik, walapun saya juga tidak merasa yakin bahwa saya sudah baik. Saya bangga dan bahagia bisa kenal dan mengenal mereka sedemikian jauh dan lama.

Dus… Akhirnya, mudah-mudahan Nevatera, dengan seluruh cinta sederhana ini kepadanya, akan tetap menjadikan semua ikatan ini tidak terputus dan utuh.

Oleh: teguh triwiyanto | Agustus 11, 2008

Hari Itu Tidak Sebaik Sekarang, Hari Ini (Sic)!

Tepat ketika itu, enam tahun lalu, saat semua pagi akan menjadi lebih buruk dari hari ini – sampai pada saat tibanya hari – saya terus berfikir kenapa tiba-tiba tertambat di sini. Awan bersih gilang gemilang pagi itu bersama-sama dengan gemericik air sungai akan saya ingat sebagai permulaan baik, membesut pekerjaan setelah berkutat dengan kuliah. Kelak saya tidak membayangkan, enam tahun kemudian, saya mengalami peristiwa seperti itu lagi, walaupun tidak serupa. Bedanya tidak ada teman saya yang cantik.

Ide tulisan ini meloncat-loncat dan akan saya biarkan seperti ini, bukankah perasaan saya hari ini meloncat-loncat.

Tepat saat ini, enam tahun kemudian, saya mengalami lagi satu momentum untuk menapaki satu lorong hidup yang kata-nya lebih baik. Lorong ini, kata-nya juga, tidak terlalu berliku-liku, saya senang sekali. Rasanya akan menjadi menusia baru lagi dengan derajat keintiman baru; keintiman ruang, waktu, keintiman lingkungan, pertemanan, persahabatan, dan tentu saja konflik. Konflik? Ya, saya mulai percaya untuk mengelola konflik daripada bertarung. Konflik dalam artian positif, kompetisi.

Hari ini dan hari-hari selanjutnya menjadi satu titik tolak berangkat yang positif untuk masa mendatang, saya percaya itu.

Hari-hari ini adalah hari depan dengan mimpi-mimpi, peristiwa masa lalu hanyalah sekedar ingatan an sich. Semakin berupaya memendam dan segenap upaya menghancurkannya, pada saat bersamaan merupakan sebuah upaya mengingat. Maka saya lebarkan tangan-tangan saya, saya kembangkan jari-jari serta buku-buku telapak tangan biar semua terlepas dan menguap. Biar peritiwa enam tahun lalu, yang sayangnya sering menghantui, lepas dari belenggu diri, saya ingin mengingat hari-hari selanjutnya, setelah hari itu, yang membuai kebutuhan mendasar psikologis saya.

Saya ingin mengingat hari-hari selanjutnya, setelah hari itu, yang membuai kebutuhan mendasar psikologis saya.

Hari itu penting, enam tahun lalu – saat semua pagi akan menjadi lebih buruk dari hari ini – tapi hari-hari selanjutnya jauh lebih bermakna. Saya bisa menghirup keluh kesah “manusia bukan siapa-siapa”, saya bisa merasakan sakit lukanya, saya bisa merasakan ketidakberdayaan karena memang tidak ada pilihan. Hari-hari selanjutnya saya akan merasakan hangatnya ikatan kekeluargaan mereka, walaupun lingkungan beringas mengancam. Mudah-mudahan pada garis demarkasi itu tepat saya ambil; bukan pada penindas kita berpihak tetapi kepada yang tertindas, penguasa harus dididik dengan perlawanan. Penguasa hati dan cinta harus dididik dengan perlawanan hati juga.

Penguasa hati dan cinta harus dididik dengan perlawanan hati juga.

Saya benar-benar melawan hati saya ketika itu, enam tahun lalu, saat semua pagi akan menjadi lebih buruk dari hari ini. Hari itu tidak sebaik sekarang, hari Ini. Karena hari ini saya bertemu dengan orang yang sama.

Oleh: teguh triwiyanto | Juli 28, 2008

Mencapai Titik Kebahagiaan

“Maka adalah sebuah gua, di mana ada beberapa tawanan yang diikat menghadap ke dinding belakang gua. Mereka sudah berada di sana seumur hidup dan tidak bisa melihat ke mana-mana, hanya bisa melihat ke depan saja.

Akan tetapi mereka bisa melihat bayang-bayangan orang di dinding belakang gua. Bayang-bayangan ini disebabkan oleh sebuah api yang berkobar di depan, di lubang masuk ke gua ini dan orang-orang di luar gua yang berjalan berlalu lalang. Para tawanan bisa melihat bayang-bayangan orang ini dan suara-suara mereka yang menggema di dalam gua.

Maka pada suatu hari, salah seorang tawanan dilepas dan dipaksa keluar. Ia disuruh melihat sumber dari bayangan ini semua. Akan tetapi api membuat matanya silau, ia lebih suka melihat bayangannya. Lama kelamaan ia bisa melihat api dan lalu ia mulai terbiasa dan melihat orang-orang yang lalu lalang.

Kemudian ia keluar dan melihat matahari (simbol daripada kebenaran), yang sebelumnya hanya sedikit bayangannya yang terlihat, sungai, padang dan sebagainya.

Lalu ia dipaksa kembali ke gua lagi dan hal pertama yang akan dilakukannya adalah membebaskan kawan-kawannya. Akan tetapi kawan-kawannya akan marah karena hal ini akan menganggu ilusi mereka. Akhirnya mereka bukannya terima kasih tetapi akan sangat marah dan membunuhnya.”

Aforisme Plato di atas membuat saya bergidik dan diam, jangan-jangan saya sedang berada pada situasi yang sama, saya takut kehilangan ilusi yang selama ini saya nikmati. Saya takut melihat api dan matahari, tantangan nyata, saya intim dengan mimpi-mimpi saya. Bahkan ketika api dan matahari di depan mata, saya masih ragu untuk melihat, apa lagi menyentuhnya. Saya takut kesempatan pertama dulu yang hilang kembali, saya tidak mampu menyentuhnya, alih-alih menyentuh yang lain. Kesempatan kedua ini menjadi satu pijakan resolusi dan revolusi hidup saya.

Hidup dalam ilusi sangat nikmat dan tanpa beban, kita hanya butuh bayang-bayang yang sejatinya mengontrol hidup kita. Kita bisa mengganti dengan apa saja, bayang-bayang akan menuruti kehendak kita, apa lagi bayang-bayang hanya sekedar di otak kita. Ketika dihadapkan pada situasi sebenarnya sering kali malah hasilnya lemah tidak berdaya.

Ah.. apakah saya menghadapi persoalan yang cukup berat hari ini? Saya kira kok tidak. Hari ini saya berbahagia, satu jalan kehidupan baru membentang di depan mta. Satu kehidupan yang mungkin ribuan, bahkan jutaaan orang mendambakan. Tinggal mencari ilmu, memperbaiki diri, berdoa, menjaga kehidupan sosial, terus belajar, maka mengalirlah kehidupan bahagia!(sic). Mengayunkan kaki untuk lompatan besar, itu yang musti saya kerjakan.

Atau mungkin hari ini saya takut kehilangan sesuatu yang selama ini dimiliki; pekerjaan, teman-teman yang baik, lingkungan yang religius, sahabat-sahabat yang erat, teman diskusi yang hangat, dan orang-orang yang saya sayangi, semua akan ditinggalkan. Kalau itu yang terjadi saya harus bahagia, karena saya masih diberi kesempatan menikmati cinta mereka. Cinta akan dirasakan kalau kita ditinggalkan ya?

Hidup adalah pilihan, walapun kita kadang terbatas dengan pilihan itu (kalimat ini sering saya ulang-ulang terus). Tidak, sekali lagi tidak, sebenarnya saya atas karunia Allah SWT memiliki heterogenitas pilihan yang mungkin juga saya tidak mampu membedakan pilihan-pilihan itu. Saya yang kerasan dalam gua jangan-jangan tidak mampu melihat pilihan-pilihan hidup dalam dunia nyata. Saya silau oleh cahaya pilihan nyta dan saya hidup dalam dunia bayang-bayang. Itu saja saya sudah bahagia dengan hidup dalam bayang-bayang-bayang.

Apa lagi satu tahap kehidupan yang nyata terbuka, saya musti menyambut dengan suka cita ya, bukan dengan kata-kata sedih.

Saya mencintai Kota Malang mulai detik ini, saya bahagia menatap silaunya api dan matahari.

Oleh: teguh triwiyanto | Juli 23, 2008

Mentalitas Hidup Bersih: Keharusan Mengandaikan Kebisaan

“Ha..ha..ha… Stereotype itu membuat saya harus berulang kali menjelaskan dan menerangkan. Bahwa tidak setiap santri itu berpenampilan lusuh, dekil, kumuh dan apa adanya. Saya pernah nyantri. Kesan terhadap santri itu berasal dari luar, itu sering merepotkan saya, terutama setelah lama bergaul dan mereka tahu latar belakang kehidupan saya. Satu sisi karena saya sadar sepenuhnya kehidupan santri, saya tidak rela kehidupan santri dilecehkan itu sisi lainnya.

Ungkapan (penulis tidak tahu kenapa dia harus memulai kalimat dengan tertawa dulu, satire atau paradoks) tersebut keluar dari teman penulis ketika suatu saat bertemu di satu acara pernikahan. Kebetulan penulis menceritakan pekerjaan di pesantren yang penulis jalani. Seperti biasanya obrolan mengarah kemana-mana, dari yang remeh temeh sampai yang berat-berat. Penulis mengakui keluasan perpektif pengetahuan dan cakrawala berfikir sistematis dia. Dia mampu melihat persoalan dari bermacam-macam sudut pandang, tidak hitam putih, benar-salah.

Pemuda-santri, teman penulis tersebut, mengeluhkan pelabelan (stereotype) masyarakat terhadap santri (pesantren pada umumnya). Dia pernah hidup di pesantren cukup lama dan sekarang menjadi pedagang. Penampilannya rapi, bersih dengan mobil jenis van keluaran terbaru. Pastinya! Dia belum punya istri, usianya belum genap kepala tiga. Contoh sukses seorang pemuda-santri yang patut di kuntit. Selama menghabiskan masa sekolah menengah atas dan studi S-1, dia pergunakan waktu di pesantren di sela rutinitas belajar-ngaji sehari-hari.

Santri, Pesantren dan Budaya (Islam): Siapa Yang Sakit?

Sebuah teori hubungan antar kebudayaan dan kepribadian mengungkapkan bahwa, kepribadian mengacu pada ciri-ciri khas dan sifat-sifat yang mewakili sikap atau tabiat seseorang. Termasuk dalam konsep kepribadian adalah pola-pola pemikiran, perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas dan segala kebiasaan-kebiasaan. Individu dan perilakunya disesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Toh, kepribadian ada yang selaras dan ada yang tidak selaras dengan budaya, alam serta sosial.

Nah, menjelaskan teori tersebut dengan kondisi-situasi sebuah pondok pesantren (dengan stereotype yang diungkap teman penulis) seperti apa? Kalau ternyata ada sesuatu yang kurang (sakit?), siapa sebenarnya sumber kumannya? Apakah pribadi (dalam hal ini santri), masyarakat (dalam hal ini pesantren) atau budayanya (Islam)? Kalau sudah ketemu kumannya, bagaimana dan apa vaksinnya, biar santri dan pesantren imun?

Santri memiliki kepribadian berbeda, jika santri suatu pesantren 1.500 orang maka sejumlah itu pula kepribadian yang ada. Walaupun keberadaan santri sangat beragam, bukan berarti mereka sama sekali berbeda di lihat dari latar belakang budaya asalnya. Secara umum motif yang paling tampak mengenai keberadaan dan niat santri di pesantren (untuk ngaji), lebih mengarah ke aspek motif sosiogenetis. Motif ini menonjol karena beberapa hal; (1) sebagian besar orang tua santri berlatar belakang pendidikan pesantren; (2) sebagian besar lingkungan asal santri adalah pesantren; dan (3) sebagian besar santri berasal dari kalangan rural agraris. Dengan melihat itu, dapat dipastikan bahwa pola-pola pemikiran, perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas dan segala kebiasaan-kebiasaan. Individu dan perilakunya disesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaan santri berjauhan secara diametral.

Keberadaan santri yang relatif homogen berkelindan dengan denyut kehidupan pesantren menjadikan kepribadian mereka semakin kuat berkarat. Ini karena apa? Kehidupan masyarakat pesantren menawarkan kehidupan yang tidak jauh berbeda seperti ritme kebiasaan mereka di rumah dan lingkungan asal.

Pesantren memiliki seperangkat aturan, norma-norma, adat istiadat selain agama sebagai pegangan hidup santri, ustadz, pengurus dan pengasuh. Perangkat-perangkat tersebut membuat sebuah masyarakat pesantren, selain masyarakat sekitarnya (penduduk bukan santri). Budaya yang hidup dalam pesantren adalah islam. Artinya, landasan moral dan landasan tindakan di pesantren menggunakan ajaran-ajaran islam.

Persoalannya, kalau pesantren (terutama santri), seperti dikemukakan teman penulis, memiliki stereotype berpenampilan lusuh, dekil dan jorok, siapa yang salah (sakit!)?

Tidak mungkin budaya islam (ajaran) yang salah? Banyak ajaran mengenai menjaga kebersihan, kesucian, menjauhi najis dan lain-lain dalam islam. Asumsi penulis, yang menjadikan pesantren memiliki streotype negatif berhubungan dengan kebersihan adalah terletak pada kepribadian santri dan masyarakatnya (jadi masyarakat dan santri sakit!).

Jadi, kalau pesantren terkenal kumuh, kotor dan tidak bias menjaga kebersihan itu disebabkan karena santri dan masyarakat pesantren!

Ada satu cerita yang diungkap Dedy Mulyana dalam bukunya Islam di Amerika Serikat. Dia mengungkap bahwa nilai-nilai islam sangat terasa diterapkan di sana; kebersihan, menepati janji, angka korupsi relatif kecil (korupsi itu mencuri) dan lain-lain. Penulis sering sedih jika mengatakan hal ini kepada teman-taman penulis, ada yang berkomentar, “Itu-kan di Amerika, kita-kan ada di Indonesia bahkan kita berada di pesantren?”. Dus, sepertinya perilaku hidup tidak sehat (tidak bisa menjaga kebersihan, jorok dan lain-lain) adalah pembenaran karena mereka (anak-anak penulis) hidup di pesantren, sehingga wajar saja santri berpribadi seperti itu.

Maksud penulis, sebenarnya-kan tidak ada persoalan dengan ajaran islam mengenai kebersihan dan segala tindakan yang mengarah ke sana. Tapi kenapa santri dan masyarakat pesantren tidak mau menjalani ajaran islam tersebut?. Satire.

Penulis yang merupakan bagian masyarakat pesantren sering merasa tertampar jika pesantren dan santri sering diangggap menderita penyakit (dalam psikologi sering disebut verbalisme). Verbalisme adalah mempelajari, mengerti, memahami dan mempercayai mengenai sesuatu kebenaran tapi tidak melaksanakan apa yang dipelajari dan apa yang diyakini. Paradoks. Indah di mulut tapi buruk dalam tindakan.

Melakukan perubahan tidak mudah. Perubahan sering menjadikan sakit hati. Karena perubahan berarti menggantikan kesenangan dan kebiasaan (kepribadian) seseorang dengan hal baru yang kadang tidak sesuai dengan kehendak pribadi. Santri yang secara geografis berasal dari masyarakat rural agraris akan sulit berubah jika masyarakat pesantren tidak mengupayakan dengan sungguh-sungguh. Filsuf Kant menegaskan bahwa “Keharusan mengandaikan Kebisaan”. Bagiamana mengharuskan santri untuk hidup bersih dan sehat jika santri tidak bisa dan biasa?. Masyarakat rural agraris biasa dimanjakan oleh alam dan masih sulit menjaga lingkungan dan melestarikan lingkungan. Bersih-bersih mencakup hati dan tindakan. Batin dan fisik. Individu dan kolektif. Peribadi dan masyarakat. Santri dan pesantren. Dan pesantren (pengurus, ustadz/ustadzah dan pengasuh) bisa mengawali hidup bersih dan sehat. Bersih-bersiiih.

*) Ocha, tulisan ini buat kamu, kelak Nevatera harus gigih seperti kamu ya… salam hangat..

Oleh: teguh triwiyanto | Juli 19, 2008

Jebolnya Watak Keadilan

Saya sebenarnya miris, lihat opini kompas hari ini, Merombak dan Menjebol Watak (Mohamad Sobary), persoalan Kejaksaan Agung yang centang perenang menjadi titik diskusi. Jaksa Agung Hendarman Supanji mengeluhkan kewibawaan dan kredibilitas Kejaksaan Agung, rontok. Mohamad Sobary balik bertannya, bahwa sejak Orde Baru, hingga hari ini, Kejaksaan Agung tak pernah -mungkin belum-punya kewibawaan maupun kredibilitas. Jadi apanya yang rontok dan kapan?

Saya memahami kegeraman Kang Sobary dan saya kira tidak akan jauh berbeda dengan pendapat rakyat kebanyakan. Mungkin Kang Sobary akan semakin geram begitu tahu bahwa Ayin masih punya kesempatan membuat skenario di pengadilan dengan Urip Tri Gunawan di balik terali besi. Muladi menyebutnya sebagai penyakit PMS atau penyakit menular masa lalu untuk menggambarkan kondisi rusaknya mental pejabat.

Sebenarnya mudah saja bagi saya untuk menyelesaikan persoalan ini, tinggal potong kaum tua di Kejaksaaan Agung, pecat semua ganti dengan yang baru. Semua pejabat di Kejaksaan Agung secara moral harus mau bertanggung jawab terhadap persoalan ini, tidak sekedar berkeluh kesah dan merasa terpojok. Terpojok dan “diserangnya” Kejaksaaan Agung, terutama oleh media, bukan karena kesalahan media. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Siapa bermain air siap-siaplah basah.

Rakyat Indonesia sudah lelah menunggu sedikit perubahan sebagai buah reformasi, bukan malah mempertontonkan ketidakadilan yang dilakukan oleh lembaga peradilan, sekali lagi lembaga bukan pribadi. Kenapa saya menyebut lembaga, sebab beberapa nama di Kejaksaaan Agung terindikasi terlibat, beberapa orang, bukan satu dan ini adalah lembaga.

Mari kita kubur ingatan kita tentang watak arif orang semakin tua semakin bijaksana. Generasi tua di Kejaksaan Agung hanya sekelompok orang yang akan memapankan posisi, kepentingan, dan kekuasaannya. Kita tidak mungkin berharap banyak dengan sosok-sosok tua seperti itu. Sosok yang mungkin tidak akan memilki jiwa progresif revolusioner. Sebuah jiwa yang akan memberangus ketidakadilan. Hanya pada sosok-sosk muda saya berharap banyak.

Oleh: teguh triwiyanto | April 22, 2008

Di Mana Kau Tan Malaka?

Hari ini, kelas XII SMA/MA/SMK, menghadapi ujian nasional. Hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan sebelumnya siswa, guru, bimbingan belajar privat, berjibaku mendorong kelulusan. Tampaknya semua ditentukan hari ini?

Pendidikan telah direduksi hanya dalam hitungan hari, mungkin hitungan jam, untuk menilai keberhasilan atau kegagalan proses pembelajaran. Pengalaman pembelajaran selama dari kelas X, bagi siswa SMA, menjadi lenyap seketika saat berhadapan dengan ujian nasional. Benarkah variabel pendidikan ditentukan oleh kelulusan dalam ujian nasional?

Genarasi Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka lahir dari rahim pendidikan kolonial. Mungkin kakek-nenek ita menikmati pendidikan kolonial. Beliau-beliau merupakan sosok-sok yang mau bekerja keras, tanpa pamrih, bahkan sampai titik darah terakhir. Tan Malaka yang sosoknya tergerus politik sejarah pun hampir-hamopir tidak pernah mempersoalkan perjuangan ketika terjadi perlawanan terhadap Belanda 1926. Mereka ikhlas. Hari ini keluarga Sukarno akan menjual rumah peninggalan mantan presiden tersebut di blitar karena kekurangan biaya perawatan. Terus dimana peran peran pemerintah yang telah menjadikan rumah tersebut cagar budaya?

Suharto lahir, Megawati, Abdurahman Wahid, SBY, Kalla, genrasi produk pendidikan pribumi. Mereka semua pemimpin negeri ini. Apa yang membedakan karektarnya dengan generasi Sukarno yang notabena alumni pendidikan kolonial? Adakah mereka telah mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau partainya? Apakah Suharto tidak berfikir telah menyisihkan berapa ribu orang dari dunia untuk melanggangkan kekauasaan, adakah GD sedikit memberikan ruang kepada mereka yang berbeda pendapat dengannya, apakah Megawati ketika di tampuk kekuasaan berbicara tentang kasus 27 Juli, adakah SBY-JK peduli dengan nasib pengungsi Laapindo yang menolak ganti rugi?

Mari berfikir tentang nasib anak-naka yang sedang mengikuti ujian nasional hari ini. Di mana posisi karakter pribadi meraka 20 – 30 tahun ke depan? Apakah variabel ujian nasional memadai?

Oleh: teguh triwiyanto | Februari 28, 2008

POTONG APBN-P VS KUALITAS PENDIKAN

Penelitian ini sedikit akan menggambarkan bagaimana variabel biaya berpengaruh terhadap capaian proses pendidikan dan pada gilirannya output pendiidikan.

Variabel input biaya pendidikan yang meliputi biaya pengadaan alat-alat pelajaran, biaya pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, biaya pengadaan prasarana pendidikan, dan biaya pembinaan kegiatan peserta didik (extracuriculer) memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap tingkat efisiensi proses pendidikan. Variabel proses pendidikan meliputi penguasaan bahan pendidik, kemampuan verbal pendidik, jam efektif mengajar pendidik, dan intensitas pemakaian perpustakaan. Biaya pengelolaan lembaga pendidikan memiliki hubungan tidak signifikan terhadap tingkat efisiensi internal proses pendidikan.

Jumlah pengeluaran biaya untuk penyelenggaraan pendidikaan sebagian besar dipergunakan untuk gaji/kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan (80.47%). Pengeluaran  terbesar setelah gaji, yaitu pengadaan sarana pendidikan (7.46%). Pengeluaran yang cukup besar, yaitu biaya pembinaan professional (4.32%), biaya pengelolaan lembaga pendidikan (3.91%), pengadaan alat-alat pelajaran (2.55%), dan biaya pemeliharaan sarana pendidikan (1.05%). Pengeluaran biaya pendidikan paling kecil, yaitu untuk pembinaan peserta didik (0.24%).

Biaya pengelolaan lembaga pendidikan mempunyai MRTS yang paling tinggii untuk meningkatkan pencapaian efisiensi internal proses pendidikan dan biaya pembinaan kegiatan peserta didik mempunyai MRTS yang tertinggi meningkatkan pencapaian efisiensi internal output pendidikan. Jika dibandingakn alokasi biaya, maka tampak bahwa alokasi biaya tidak tepat sasaran. Menaikkan biaya pengelolaan lembaga pendidikan dan menaikkan biaya pembinaan peserta didik akan menaikkan pencapaian efisiensi internal dan efisiensi output pendidikan.

Tulisan sejalan dengan temuan penelitian Fuller dan Clarke (McMahon.,et al., 2001:42) dan Fattah (2000:130) pada tingkat pendidikan dasar yang  menemukan input-input berikut yang memiliki pengaruh yang sangat signifikan pada prestasi yaitu antara lain: biaya pengadaan bahan pelajaran, biaya pembinaan siswa, dan biaya pengelolaan sekolah.

Nurhadi (1993:4) menyatakan efisiensi dalam proses pendidikan akan dicapai apabila produk pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dengan biaya (input) yang minimal, atau produk pendidikan yang diperoleh secara maksimal didapat dengan biaya (input) yang telah ditetapkan.

Nah, biaya pendiidkan yang sudah kecil; dipotong 15 persen, biaya gaji dimasukkan dalam 20 persen alokasi APBN. Kenapa bukan sektor lain yang dipotong?

Oleh: teguh triwiyanto | Februari 20, 2008

kenapa kamu ada?

menemui mimpi kembali

menemui cahaya masa lalu dan terus membakar

cahaya menyala pada telapak tangan terbakar

mencoba mengelak.

Oleh: teguh triwiyanto | Januari 24, 2008

Misteri Soliter:Dimana Eksistensi Kita?

Namun, aku yakin masih ada joker yang berkeliaran di dunia ini. Ia akan membuat dunia tak pernah beristirahat. Kapanpun-dan dimanapun-si tolol kurcaci itu akan berjingkrak-jingkrak dengan telinga keledainya yang panjang dan lonceng-loncengnya yang bergemerincing. Ia akan menatap sepasang matamu dalam-dalam dan bertanya padamu dalam hening di malam sunyi: Siapakah kau? Dari manakah kau berasal?

Jostein Gaarder, begitu mengakhiri novel Misteri Soliter, mendesakkan pertanyaan filosofis yang sulit di jawab, tapi menantang untuk menyelaminya. Teritori penciptaan digambarkan begitu dramatis, hening, dan ternyata misteri pencipta sangat dekat dengan yang diciptakan. Diskusi teologi-tentang penciptaan-menjadi sederhana dan mudah dikunyah. Sosok-sosok kartu remi menjadi sebuah makhluk-kurcaci- setelah keluar dari pikiran pelaut kesepian-pemain soliter-menjadi semacam penanda proses penciptaan oleh Tuhan. Proses penciptaan Adam melewati fase kehendak oleh Tuhan. Tapi, apakah kurcaci tercipta melewati kehendak Frode?

Bagian penciptaan kurcaci absurd diceritakan dalam novel ini. Kurcaci-kurcaci berlompatan keluar dari pikiran Frode-yang dipenuhi gambar-gambar kartu remi-dan menjadi individu yang bereksistensi. Kurcaci ditandai olehnya. Kurcaci dikendalikan. Absurditas penciptaan tampak pada eksistensi joker. Joker tiba-tiba muncul. Joker tidak bisa dikendalikan. Kurcaci ciptaan Frode tidak bisa dikendalikan, termasuk oleh Frode-sang pencipta. Dimana eksistensi sang pencipta? Atau mungkin segaris dengan pernyataan ayah Hans Thomas.

“Mungkin Ia takut saat melihat apa yang telah diciptakan-Nya. Jadi Ia lari dari segalanya. Tidak mudah mengatakan siapakah yang rasa takutnya paling besar; makhluk yang diciptakan atau sang pencipta. Kupikir proses penciptaan menakutkan keduanya. Tapi, setidaknya Dia menandai adikarya-Nya itu sebelum pergi meninggalkannya.”

Eksistensi orang lain merupakan ancaman bagi eksistensi kita.

Misteri Soliter menjadi jembatan menuju berbagai macam pertanyaan eksistensial, pertanyaan yang sering diajukan Sartre, Kierkegard, Nietzche, dll. Novel ini menjanjikan bagi pencinta sastra filosofis untuk menyelam dipalung penciptaan dan eksistensi manusia. Sebab jangan-jangan kehidupan kita sebenarnya selalu diikuti oleh joker.

Joker membuat eksistensi kita-sebagai manusia-terancam. Joker selalu bisa masuk pada wilayah dimanapun dan waktu kapanpun.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori