“Ha..ha..ha…” Stereotype itu membuat saya harus berulang kali menjelaskan dan menerangkan. Bahwa tidak setiap santri itu berpenampilan lusuh, dekil, kumuh dan apa adanya. Saya pernah nyantri. Kesan terhadap santri itu berasal dari luar, itu sering merepotkan saya, terutama setelah lama bergaul dan mereka tahu latar belakang kehidupan saya. Satu sisi karena saya sadar sepenuhnya kehidupan santri, saya tidak rela kehidupan santri dilecehkan itu sisi lainnya.
Ungkapan (penulis tidak tahu kenapa dia harus memulai kalimat dengan tertawa dulu, satire atau paradoks) tersebut keluar dari teman penulis ketika suatu saat bertemu di satu acara pernikahan. Kebetulan penulis menceritakan pekerjaan di pesantren yang penulis jalani. Seperti biasanya obrolan mengarah kemana-mana, dari yang remeh temeh sampai yang berat-berat. Penulis mengakui keluasan perpektif pengetahuan dan cakrawala berfikir sistematis dia. Dia mampu melihat persoalan dari bermacam-macam sudut pandang, tidak hitam putih, benar-salah.
Pemuda-santri, teman penulis tersebut, mengeluhkan pelabelan (stereotype) masyarakat terhadap santri (pesantren pada umumnya). Dia pernah hidup di pesantren cukup lama dan sekarang menjadi pedagang. Penampilannya rapi, bersih dengan mobil jenis van keluaran terbaru. Pastinya! Dia belum punya istri, usianya belum genap kepala tiga. Contoh sukses seorang pemuda-santri yang patut di kuntit. Selama menghabiskan masa sekolah menengah atas dan studi S-1, dia pergunakan waktu di pesantren di sela rutinitas belajar-ngaji sehari-hari.
Santri, Pesantren dan Budaya (Islam): Siapa Yang Sakit?
Sebuah teori hubungan antar kebudayaan dan kepribadian mengungkapkan bahwa, kepribadian mengacu pada ciri-ciri khas dan sifat-sifat yang mewakili sikap atau tabiat seseorang. Termasuk dalam konsep kepribadian adalah pola-pola pemikiran, perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas dan segala kebiasaan-kebiasaan. Individu dan perilakunya disesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Toh, kepribadian ada yang selaras dan ada yang tidak selaras dengan budaya, alam serta sosial.
Nah, menjelaskan teori tersebut dengan kondisi-situasi sebuah pondok pesantren (dengan stereotype yang diungkap teman penulis) seperti apa? Kalau ternyata ada sesuatu yang kurang (sakit?), siapa sebenarnya sumber kumannya? Apakah pribadi (dalam hal ini santri), masyarakat (dalam hal ini pesantren) atau budayanya (Islam)? Kalau sudah ketemu kumannya, bagaimana dan apa vaksinnya, biar santri dan pesantren imun?
Santri memiliki kepribadian berbeda, jika santri suatu pesantren 1.500 orang maka sejumlah itu pula kepribadian yang ada. Walaupun keberadaan santri sangat beragam, bukan berarti mereka sama sekali berbeda di lihat dari latar belakang budaya asalnya. Secara umum motif yang paling tampak mengenai keberadaan dan niat santri di pesantren (untuk ngaji), lebih mengarah ke aspek motif sosiogenetis. Motif ini menonjol karena beberapa hal; (1) sebagian besar orang tua santri berlatar belakang pendidikan pesantren; (2) sebagian besar lingkungan asal santri adalah pesantren; dan (3) sebagian besar santri berasal dari kalangan rural agraris. Dengan melihat itu, dapat dipastikan bahwa pola-pola pemikiran, perasaan, konsep diri, perangai, mentalitas dan segala kebiasaan-kebiasaan. Individu dan perilakunya disesuaikan dengan masyarakat dan kebudayaan santri berjauhan secara diametral.
Keberadaan santri yang relatif homogen berkelindan dengan denyut kehidupan pesantren menjadikan kepribadian mereka semakin kuat berkarat. Ini karena apa? Kehidupan masyarakat pesantren menawarkan kehidupan yang tidak jauh berbeda seperti ritme kebiasaan mereka di rumah dan lingkungan asal.
Pesantren memiliki seperangkat aturan, norma-norma, adat istiadat selain agama sebagai pegangan hidup santri, ustadz, pengurus dan pengasuh. Perangkat-perangkat tersebut membuat sebuah masyarakat pesantren, selain masyarakat sekitarnya (penduduk bukan santri). Budaya yang hidup dalam pesantren adalah islam. Artinya, landasan moral dan landasan tindakan di pesantren menggunakan ajaran-ajaran islam.
Persoalannya, kalau pesantren (terutama santri), seperti dikemukakan teman penulis, memiliki stereotype berpenampilan lusuh, dekil dan jorok, siapa yang salah (sakit!)?
Tidak mungkin budaya islam (ajaran) yang salah? Banyak ajaran mengenai menjaga kebersihan, kesucian, menjauhi najis dan lain-lain dalam islam. Asumsi penulis, yang menjadikan pesantren memiliki streotype negatif berhubungan dengan kebersihan adalah terletak pada kepribadian santri dan masyarakatnya (jadi masyarakat dan santri sakit!).
Jadi, kalau pesantren terkenal kumuh, kotor dan tidak bias menjaga kebersihan itu disebabkan karena santri dan masyarakat pesantren!
Ada satu cerita yang diungkap Dedy Mulyana dalam bukunya Islam di Amerika Serikat. Dia mengungkap bahwa nilai-nilai islam sangat terasa diterapkan di sana; kebersihan, menepati janji, angka korupsi relatif kecil (korupsi itu mencuri) dan lain-lain. Penulis sering sedih jika mengatakan hal ini kepada teman-taman penulis, ada yang berkomentar, “Itu-kan di Amerika, kita-kan ada di Indonesia bahkan kita berada di pesantren?”. Dus, sepertinya perilaku hidup tidak sehat (tidak bisa menjaga kebersihan, jorok dan lain-lain) adalah pembenaran karena mereka (anak-anak penulis) hidup di pesantren, sehingga wajar saja santri berpribadi seperti itu.
Maksud penulis, sebenarnya-kan tidak ada persoalan dengan ajaran islam mengenai kebersihan dan segala tindakan yang mengarah ke sana. Tapi kenapa santri dan masyarakat pesantren tidak mau menjalani ajaran islam tersebut?. Satire.
Penulis yang merupakan bagian masyarakat pesantren sering merasa tertampar jika pesantren dan santri sering diangggap menderita penyakit (dalam psikologi sering disebut verbalisme). Verbalisme adalah mempelajari, mengerti, memahami dan mempercayai mengenai sesuatu kebenaran tapi tidak melaksanakan apa yang dipelajari dan apa yang diyakini. Paradoks. Indah di mulut tapi buruk dalam tindakan.
Melakukan perubahan tidak mudah. Perubahan sering menjadikan sakit hati. Karena perubahan berarti menggantikan kesenangan dan kebiasaan (kepribadian) seseorang dengan hal baru yang kadang tidak sesuai dengan kehendak pribadi. Santri yang secara geografis berasal dari masyarakat rural agraris akan sulit berubah jika masyarakat pesantren tidak mengupayakan dengan sungguh-sungguh. Filsuf Kant menegaskan bahwa “Keharusan mengandaikan Kebisaan”. Bagiamana mengharuskan santri untuk hidup bersih dan sehat jika santri tidak bisa dan biasa?. Masyarakat rural agraris biasa dimanjakan oleh alam dan masih sulit menjaga lingkungan dan melestarikan lingkungan. Bersih-bersih mencakup hati dan tindakan. Batin dan fisik. Individu dan kolektif. Peribadi dan masyarakat. Santri dan pesantren. Dan pesantren (pengurus, ustadz/ustadzah dan pengasuh) bisa mengawali hidup bersih dan sehat. Bersih-bersiiih.
*) Ocha, tulisan ini buat kamu, kelak Nevatera harus gigih seperti kamu ya… salam hangat..